hutanhijau.org

Mona Lisa Smile, Gender Mainstreaming, dan Hutan Hujan Indonesia

“Ketika Anda membaca editorial ini, Katherin Watson sedang berlayar ke Eropa, tempat ia menemukan dinding baru untuk diruntuhkan dan menggantinya dengan ide-ide yang baru. Aku pernah mendengar ia menjuluki orang yang mudah menyerah sebagai pengembara tanpa tujuan. Tapi tak semua pengembara tanpa tujuan. Khususnya mereka yang mencari kebenaran di balik tradisi di luar definisi yang sudah ada, di atas imajinasi…”

Paragraf di atas adalah penutup film Mona Lisa Smile (2003) yang dibintangi oleh Julia Roberts. Dalam film itu, ia memerankan Katherin Watson, seorang guru Sejarah Seni di sekolah perempuan konservatif di Wallesley. Watson datang ke sekolah itu dengan mimpi besar: mengubah paradigma.

Sekolah Wallesley mendidik siswi menjadi cerdas dan hapal silabus pelajaran tapi tetap menjadi warga kelas dua: menikah, melayani suami, melepaskan mimpinya untuk menjadi yang ia mau. Ketika menjadi istri, harus menjaga keharmonisan keluarga meski kerap terjadi KDRT. Watson memberi pandangan baru bahwa perempuan tidak harus menikah muda melainkan bisa mengejar cita-citanya.

hutanhijau.org
Mona Lisa Smile (2003). Sumber: IMDB

Akhirnya, Watson memang “kalah” sebab terusir dari sekolah itu. Namun ada kemenangan yang lain, siswi-siswinya berani untuk memperjuangkan nasibnya dan tegak pada pilihannya.

Film dan film dokumenter bertema kesetaraan gender sudah banyak dan beberapa memang meninggalkan jejak kesadaran. Mulai dari Suffragette (2015), North Country (2005), Made in Dagenham(2010), He Named Me Malala (2015), Whale Rider (2002), hingga yang terbaru Barbie (2023) dan lain-lain.

Pun dialektika kesetaraan pun masih menjadi diskursus yang panjang milik para aktivis dan akademisi. Di catatan ini, saya hanya berkisah tentang hal yang saya alami ketika melakukan tugas jurnalistik. Bertemu dengan banyak perempuan inspiratif negeri ini. Tak jarang kisahnya menjadikan mata saya hangat dan berupaya keras untuk menjaga independensi sebagai jurnalis, tidak terlibat perasaan terlalu dalam. Tapi di sisi lain, saya perempuan juga, sama dengan mereka yang kerap berhati lembut ala kapuk randu.

Saya bertemu dengan perempuan predikat sebagai local champion karena perjuangan dan capaiannya. Saya bertemu juga dengan perempuan yang menurut LSM/pemerintah masuk dalam target  pemberdayaan PUG (Pengarusutamaan Gender). Pertanyaan saya, perlukah semua perempuan harus menjadi local champion?

Pengarusutamaan Gender untuk Siapa?

Desember, di pinggiran hutan kawasan Sulawesi Selatan. Saya mendapat tugas dari sebuah NGO Jerman untuk menulis peran perempuan dalam menjaga hutan. NGO ini memberikan kebebasan saya untuk menulis tanpa intervensi sebab mereka ingin memotret kondisi riil di lapangan. Mereka memberi akses narasumber awal, selanjutnya seperti bola salju, saya mencari sendiri tanpa pengawalan.

Dari awal, daftar narasumber yang disodorkan adalah laki-laki, baik para stakeholder maupun masyarakat. Saya tidak mengatakan bahwa para feminis selalu perempuan. Perempuan misoginis pun banyak. Namun saya tetap ingin wawancara dengan narasumber perempuan.

Kurang lebih satu minggu saya susuri satu desa ke desa lain di batas hutan, namun saya tidak menemukan yang saya cari. Bukan perkara kuantitas, sekadar ada perempuan yang bisa saya wawancara. Saya ingin menggali lebih dalam tentang peran perempuan terhadap hutan ini. Apakah (seperti yang saya dapat di kuliah Gender, Prodi Penyuluhan Pembangunan, S2 Pascasarjana UNS, 2023) hanya sekadar women and development atau sudah women in development. Frasa terakhir artinya, perempuan punya peran dalam menentukan kebijakan dan strategi dalam pengelolaan hutan. Peran-peran yang dijalankan dengan penuh kesadaran, bukan hanya ikut-ikutan. Bukan hanya formalitas.

“Sudah bapaknya/suami saja yang diwawancara,” demikian selalu jawaban para perempuan di sana.

Saya sudah balik ke Makassar dan pesan penerbangan ke Surabaya, namun tetap saja ada yang mengganjal. Akhirnya saya diskusi dengan NGO dan saya diizinkan balik lagi ke wilayah tapak. Kali ini, saya memakai strategi beda. Bukan datang mengetuk pintu secara formal tapi saya ikut nongkrong di pos ronda.

Pada jam awal, para bapak-bapak itu sangat canggung dengan kehadiran saya. Perempuan tidak ada yang nongkrong di pos ronda. Mulai jam 7 malam, perempuan sudah di depan TV untuk menonton sinetron yang melambungkan mimpi, sejenak lepas dari letihnya keseharian mengurus rumah. Sementara para bapak merokok, ngobrol masalah desa, dan tak jarang, dari sinilah lahir gagasan untuk kemajuan desa.

Pada pukul 9 malam, tiba-tiba seorang laki-laki datang membawa jerigen dan membagikan cangkir enamel. Ketika melihat saya, dia langsung canggung dan akan menarik cangkirnya. Saya cegah dan justru saya yang menuangkan isi jerigen tersebut untuk saya minum. Para bapak itu tertawa, kami pun minum bersama, memutar cangkir malam itu. Tentu saya tidak sampai “pindah dunia”, otak saya masih menyusun draft pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Dari sanalah semua menjadi cair dan saya mendapatkan info yang yang tak terkatakan ketika saya wawancara formal.

Fakta pertama, sesungguhnya program gula aren dan gula semut untuk pemberdayaan masyarakat di khususnya perempuan tidaklah efektif di desa itu. Masyarakat lebih untung dengan menjual balok (fermentasi nira/arak), yaitu cairan yang saya tuang dari jerigen di pos ronda. Tidak perlu proses pengolahan dengan tenaga banyak, tidak perlu mengambil kayu dari hutan (mengurangi tekanan pada hutan) untuk mengolahnya, dan untungnya lebih banyak. Namun fakta ini menjadi tidak etis menjadi laporan pemberdayaan di lingkungan masyarakat relijius meski menjadi gantungan hidup keseharian mereka.

Fakta kedua, peran perempuan masih seputaran sumur, dapur, dan kasur dan itu sudah “diterima” dengan bahagia oleh para perempuan di desa itu. Kalau pun ada pelibatan dalam sebuah kegiatan besar terkait hutan, maka perempuan perannya sebagai: sie konsumsi. Apakah salah? Tidak. Sie konsumsi juga sangat penting.

Ketika saya bertanya, apakah tidak ingin punya peran lain, misalnya sebagaimana yang dilakukan oleh para laki-laki di desa itu. Jawabannya: wah, itu kerja berat. Itu pekerjaan laki-laki. Perempuan kan dilindungi, hanya mengurus hal-hal ringan yang tidak berbahaya.

Barangkali perempuan dideskripsikan seperti lagunya Roxette “Vulnerable”, like china in my hand (seperti keramik Cina dalam genggaman). Sebagaimana para perempuan di sana yang melihat saya dengan kasihan. Harus bepergian jauh sendirian, menenteng kamera tele seberat 1,5kg, kumel, dan berlengan kekar. Menurut mereka, ini pekerjaan laki-laki. Bagaimana bila saya sangat bahagia meski memanggul beban berat (dalam arti yang sesungguhnya, ransel minimal 9kg?)

Tak hanya toilet yang berjenis kelamin, pekerjaan pun berjenis kelamin. Konsep gender sebagai konsep biologi atau konsep gender hasil dari konstruksi sosial belum sampai di desa ini. Apakah mereka tahu? Apakah mereka perlu tahu?

hutanhijau.org
Perempuan Papua sedang merajut noken di Jayapura. Foto: Titik Kartitiani

Mama-mama Papua dan Hutan Hujan

Sebulan sebelumnya, bulan Oktober, ketika Mama Mien, mama-mama Papua asal Nabire memegang tangan saya dengan mata berkaca-kaca ketika saya pamit akan balik ke Kediri. “Jangan cemaskan apapun. Tuhan Yesus su ngatur semuanya. Kaka akan selamat,” katanya. Saat itu masih Covid. Saya mendapat sebuah noken karyanya dan doa yang tulus dari seorang mama yang baru beberapa jam saya temui. Saya ingat genggaman hangat telapak tangannya yang tebal, hingga kini. Telapak tangan yang dibangun dari kerja keras memegang cangkul dan sabit.

Jika masuk hutan adalah hal yang menakutkan bagi sebagian perempuan, bagi perempuan Papua, hutan adalah toserba yang menyediakan semua kebutuhannya. Bahan makanan, busana, obat, semua diambil dari hutan dan dilakukkan oleh perempuan. Luas hutan Papua 33,12 juta ha atau 32,2% dari total luas tutupan hutan Indonesia (BPS, 2022), tempat para perempuan pinggiran hutan atau yang tinggal dalam hutan “berbelanja”.

Kala itu, saya mengikuti para perempuan Papua membuat noken. Dari mulai mengumpulkan serat kayu yang diambil dari rapatnya hutan hujan, menyerut, mengolah, mengangkut, mengolah, hingga mengayam, semua dilakukan oleh perempuan.

Laki-lakinya ke mana? Para laki-laki juga melakukan hal yang sama kecuali menganyam. Bukan soal karena menganyam adalah pekerjaan perempuan tapi lebih pada, laki-laki tidak setekun perempuan dalam menganyam.

Dalam mengakses hutan dan memutuskan pengelolaan hutan, perempuan Papua di pinggiran hutan memiliki kekuatan yang sama. Namun menjadi beda ketika sudah di jajaran lembaga pemerintah. Secara kuantitas, jumlah perempuan belum banyak yang menduduki posisi strategis.

Sebagai penutup catatan ini, beberapa hari lalu saya mendapatkan buku dari seorang teman, judulnya: Growing from Seed, an Introduction to Social Forestry (Celeste Lacuna-Richman-Springer, 2012) di bab 6 memaparkan tentang Effects of External Organizations on the Community’s Practice of Social Forestry. 

Ada banyak narasi yang disajikan tentang pengaruh luar terhadap hutan dan masyarakat. Yang saya catat, yang namanya hutan belantara itu tidak ada. Akses akan makin terbuka terhadap hutan yang konon sangat terpencil. Tak harus bisnis kayu, tapi juga dari ekowisata, pemanfaatan HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu), hingga perdagangan karbon. Masyarakat pinggiran hutan tidak akan bisa lagi mempertahankan batas dengan dunia luar. Pun para perempuan. Tuntutannya untuk bertahan, perempuan tidak hanya cukup punya kemampuan sumur, dapur, dan kasur. Dibutuhkan banyak kemampuan lain untuk bisa tegak di atas kaki sendiri. Perkara nanti digunakan atau tidak, itu ada pada pilihan hidup masing-masing. Bukan karena tekanan atau keterpaksaan. Di sanalah sesungguhnya kesetaraan bermuara: kebebasan menentukan pilihan.

Zeen is a next generation WordPress theme. It’s powerful, beautifully designed and comes with everything you need to engage your visitors and increase conversions.