Perubahan iklim bukan hanya tentang suhu yang meningkat atau es yang mencair, tetapi juga tentang semangkuk nasi di meja makan Anda. Peningkatan suhu global berpotensi menyebabkan kelangkaan beras di Indonesia, akibat serangan wereng coklat yang semakin parah.
Meningkatnya suhu menjadikan populasi hama wereng meningkat, serangan lebih dahsyat, panen padi menurun, beras jadi mahal. Jika fatal, terjadi gagal panen, nasi jadi sudah didapat.
Ketika mendengar frasa perubahan iklim dan ketakseimbangan keragaman hayati, seolah-olah itu “hanya” kasus lingkungan yang jauh dari kita. Tahukah bahwa dua hal itu sangat dekat dengan kita? Perubahan iklim meningkatkan populasi hama khususnya wereng coklat (Nilaparvata lugens) yang mengakibatkan gagal panen. Jika demikian, sangat mungkin beras jadi mahal, nasi pun langka.
Bukan maksud membuat takut, sebuah jurnal ilmah yang ditulis oleh Elza Surmanini dkk dari Pusat Penelitian Iklim dan Suasana, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bandung menyatakan bawah perubahan iklim meningkatkan serangan wereng coklat. Jurnal yang berjudul Perubahan iklim dan sebaran wereng coklat di Indonesia di masa depan: Sebuah studi proyeksi (dipublikasikan di Journal of the Saudi Society of Agricultural Sciences , Oktober 2023) menyatakan bahwa dinamika wilayah rusak oleh wereng coklat sangat dipengaruhi oleh peningkatan suhu dan curah hujan pada musim kemarau terkait peristiwa La Niña. Curah hujan bulan terkering, curah hujan musiman, suhu rata-rata kuartal terkering dan suhu musiman merupakan faktor yang paling mempengaruhi sebaran wereng coklat.
Lebih sederhana, suhu yang lebih hangat bikin serangga jadi gembul, termasuk hama wereng coklat. Temperatur yang lebih tinggi memiliki kecenderungan untuk mempercepat pola makan serangga, mempercepat laju metabolisme, durasi generasi, ukuran populasi, distribusi geografis yang memungkinkan organisme menyelesaikan siklus hidupnya hingga tiga minggu lebih awal. Dengan demikian, pertumbuhan populasi wereng coklat pun makin cepat sementara luasan lahan padi sama sehingga kerusakan yang ditimbulkan lebih tinggi.

Di Indonesia, puncak serangan wereng coklat terjadi pada tahun La Niña tahun 2010 dan 2011, masing-masing seluas 137.481 ha dan 221.832 ha. Wabah ini telah menyebabkan hilangnya hasil sebesar 1–2 ton/ha. Kerugian ekonomi sebesar Rp 1,102 triliun pada tahun 2010 dan Rp 1,74 triliun pada tahun 2011.
Selain itu, kerugian yang ditimbulkan selama wabah ini mencapai lebih dari tujuh ton kali lebih tinggi dibandingkan pengalaman pada tahun netral tahun 2012, yang secara mengejutkan berdampak pada 28.893 ha akibat serangan wereng coklat.
Semakin suhu naik, maka semakin banyak hama wereng dan hama lain yang mungkin menyerang. Petani biasanya antisipasinya dengan lebih banyak menyemprot dengan insektisida. Namun lama kelamaan, hama pun jadi kebal.



