Kendaraan bermotor menyumbang 43% total emisi GRK sektor transportasi. Sementara sektor transportasi menyumbang 60% dari polusi udara Jakarta. Jumlah yang cukup besar tanpa kita sadari karena sudah menjadi keseharian.
Suparno (40 tahun), pengemudi ojol (ojek online) di Jakarta Selatan sudah menyerah dengan sepeda motornya yang kerap keluar masuk bengkel. Ada saja kerusakannya. Bukan hanya soal waktu, biaya untuk bengkel ini tidak sedikit. Akhirnya terpaksa ia mengikuti program dari perusahaannya untuk beralih ke sepeda motor listrik.
“Awalnya saya tidak mau karena harus sewa. Sehari Rp 45.000,-,” katanya. Alasan ekonomi menjadi faktor utama. Tapi ternyata, alasan ekonomis yang menjadi solusinya. Dengan menggunakan kendaraan listrik, ia hanya mengeluarkan Rp 15.000,- untuk charge baterai. Bila ia menggunakan kendaraan bensin, minimal mengeluarkan Rp 30 ribu – Rp 40 ribu/hari. Jadi biaya yang dikeluarkan setiap hari antara Rp 60 ribu – Rp 70.000,-. Sementara pengasilannya antara Rp 200 ribu – Rp 300 ribu/hari. Masih bisa menutupi pengeluaran dan membawa uang untuk keluarganya.

“Kalau punya motor listrik sendiri, pasti lebih hemat,” harapnya. Menurut Suparno, penumpang pun senang bila naik sepeda motor listrik. Hal yang langsung bisa dirasakan konsumen, sepeda motor listrik tidak ada suara. Suparno tidak membahas bahwa kendaraan listrik salah satu alternatif untuk menurunkan emisi karbon.
Suparno dan mungkin pemilik 24.443.999 unit sepeda motor di Jakarta yang terdaftar Korlantas Polri (data 21 Juni 2023) pun tidak ambil pusing dengan emisi karbon. Ketika lebih hemat, nyaman, maka tak ada alasan untuk tidak beralih ke listrik. Motivasi tidak harus berupa penyelamatan lingkungan, namun muaranya akan sama: penurunan emisi. Menurut data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, emisi GRK dari sepeda motor di Jakarta pada tahun 2019 mencapai 26,8 juta ton CO2 ekivalen. Jumlah ini setara dengan 43% dari total emisi GRK sektor transportasi di Jakarta, yang mencapai 62,3 juta ton CO2 ekivalen. Melihat besarnya sumbangan GRK dari sepeda motor, kenapa kesannya lamban untuk berubah?
Ketersediaan Teknologi Elektrifikasi
“Sebenarnya, untuk bisa pakai listrik tidak harus beli motor listrik baru. Kami bisa mengubah sepeda motor bensin ke listrik dengan cepat,” kata Okto Larido, CEO Motoriz PT Semesta Motor Indonesia (SMI) saat presentasi, di Jakarta Selatan. Motoriz merupakan bengkel sepeda motor yang memiliki jaringan luas di Jakarta.
Ekosistem jaringan bengkel sepeda motor Motoriz di bawah PT SMI berani menggratiskan konversi sepeda motor konvensional menjadi sepeda motor listrik di bengkelnya dengan memanfaatkan subsidi pemerintah sebelumnya, yakni Rp 10 juta dengan skema sewa baterai per bulan. Motoriz bekerja sama dengan TDL.id, produsen baterai yang memberikan fasilitas sewa baterai sebesar Rp 199.000 per bulan.
“Prosesnya cepat, hanya 30menit-1 jam selesai,” tambah Okto. Hal ini disampaikan, jika ada program konversi massal di sebuah event, mekanik dari Motoriz siap. Selain itu, jaringan bengkel di Jakarta lumayan banyak.
Dulu konversi ke motor listrik bisa Rp 15-17 juta karena ya Rp 9-10 juta itu untuk mesinnya, Rp 8 juta itu untuk baterainya. Meski sudah ada subsidi Rp 10 juta, konsumen harus nambah Rp 7 juta. Kini bisa gratis. Dari dukungan ini, ia berharap dengan adanya program konversi gratis ke sepeda motor listrik di bengkelnya, dapat membuat masyarakat tertarik ikut serta dalam elektrifikasi yang tengah didorong pemerintah.
Seambius Apakah Indonesia?
Komitmen Indonesia terhadap Paris Agreement yaitu menahan laju kenaikan suhu rata-rata global dibawah 2°C di atas suhu di masa praindustrialisasi dan melanjutkan upaya untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1,5°C di atas suhu di masa praindustrialisasi.
Dalam Lokakarya Media yang diadakan Institute for Essential Services Reform (IESR) pada 27 Mei 2024, Dr. Raditya Wiranegara, Peneliti Senior IESR menyampaikan teknis terkait dengan peta jalan transisi energi di Indonesia. Penurunan emisi yang terjadi sudah sejalan dengan NDC Indonesia sebesar 29% pada tahun 2030. Hal ini merupakan bagian dari komitmen Indonesia untuk mendukung upaya menjaga kenaikan rata-rata temperatur global di bawah 2°C.
“Kebijakan insentif fiskal untuk produksi mobil/motor listrik dan peningkatan produksi merupakan salah satu strategi dekarbonisasi,” kata Raditya. Di subsektor transportasi, selain kendaraan listrik, penggunaan biofuel moda transportasi massal di 13 wilayah perkotaan di Jawa dan Sumatra merupakan strategi dekarbonisasi.
Peta jalan tersebut berupa langkah ideal yang memandu EBT. Namun, Delima Ramadhani, Koordinator Proyek Climate Policy IESR menyampaikan bahwa Indonesia diperkirakan akan kehilangan target energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025, dengan energi terbarukan hanya mencapai 13,6% dari pembangkit listrik pada tahun 2022. Hal ini dilihat dari data CAT (Climate Action Trekker) bahwa aksi iklim Indonesia sama sekali tidak konsisten dengan batas kenaikan suhu 1,5°C.



