Pada awalnya ingin gaya, tapi modal cekak. Baju thrifting solusinya. Bukan tembakan (barang palsu), tapi dibeli degan harga terjangkau. Pada akhirnya bukan soal murah, tapi juga ikut mengurangi jejak karbon.
Anda ingin barang fesyen branded tapi dengan harga sangat murah, maka thrifting pilihannya. Mulai dari busana, sepatu, tas, dan semua barang bisa diperoleh dengan cara ini. Thrifting, preloved, second hand, alias baju (dalam arti sepatu, tas dll) bekas adalah cara murah untuk tampil keren. Benarkah ini sekadar pansos (panjat sosial-social climber) atau sesungguhnya aktivitas ini sangat ramah lingkungan hingga bisa berkontribusi pada pencegahan kenaikan suhu bumi?
Barang-barang bermerek memang idaman banyak orang. Ada yang membeli karena membutuhkan, sehingga alasannya pada fungsi. Di sisi lain, barang-barang dari jenama ternama ini berkualitas bagus dan nyaman dikenakan. Ada harga, ada rupa, demikian peribahasanya. Untuk membuat barang bagus dan sesuai dengan konsumen tentu butuh investasi waktu dan biaya.
Fast Fashion dan Jejak Karbon
Industri fesyen berkembang pesat pada akhir abad ke-20 ketika industri fast fashion berkembang. Fast fashion diilhami oleh konsep perubahan cepat dalam tren mode, produksi massal, dan harga terjangkau. Pendekatan ini memungkinkan merek untuk memperbarui koleksi mereka secara teratur, merespon tren terkini, dan membuat produk mode menjadi lebih terjangkau bagi konsumen.
Beberapa merek fast fashion pertama yang muncul dan memainkan peran penting dalam mempopulerkan konsep ini termasuk Zara. Jenama ini didirikan oleh Inditex di Spanyol pada tahun 1974. Zara dikenal karena mengadopsi model bisnis yang sangat responsif terhadap tren mode terkini dengan siklus produksi yang sangat cepat.
H&M (Hennes & Mauritz), yang didirikan di Swedia pada tahun 1947, juga berperan besar dalam mengenalkan konsep fast fashion ke pasar global. Merek-merek lainnya, seperti Forever 21, Uniqlo, dan Primark, juga menjadi bagian dari fenomena ini.
Dalam pertimbangan lingkungan, industri fast fashion bertanggung jawab atas delapan persen emisi karbon global dan merupakan konsumen air terbesar kedua. Setelah industri minyak, produksi tekstil merupakan industri yang paling menimbulkan polusi . Rata-rata orang mengonsumsi pakaian 400 persen lebih banyak dibandingkan dua dekade lalu, dan di AS, lebih dari 11 juta ton tekstil dibuang setiap tahunnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor pakaian bekas Indonesia mencapai 26,22 ton dengan nilai US$272.146 pada 2022. Jumlah tersebut meningkat 230,40% dibandingkan pada tahun sebelumnya, 7,94 ton dengan nilai US$44.136.
Antara Nilai dan Hasrat
Untuk menjawab pertanyaan besar, sejauh mana thrifting berkontribusi pada lingkungan, Hutan Hijau ngobrol dengan Patricia Sandjaja, pendiri dan pengajar di Phalie Studio, lembaga pendidikan fesyen di Kelapa Gading, Jakarta Utara, 3/02/2024.
“Kalau pendapat saya, membeli barang-barang thrifting memang lebih ramah lingkungan. Kita memperlama usia pakai dari barang tersebut sehingga makin lebih lama dipakai, makin lama menjadi sampah,” kata Patricia.
Asumsinya, jika makin lama barang dipakai, makin sedikit sampah yang dihasilkan dalam kurun waktu pemakainnya. Namun kadang tidak demikian. Meski barang tersebut awet, ada hasrat lain untuk membeli lagi dan lagi. Apalagi untuk produk busana. Fast fashion memungkinkan produksi barang dihasilkan dengan cepat.
Pada awalnya, produksi busana mengikuti kalender musim di Eropa. Dalam setahun, para desainer dan jenama terkenal hanya mengeluarkan koleksi setahun dua kali yaitu koleksi Fall/Winter dan Spring Summer. Kalender ini juga diikuti oleh industri fesyen dunia.
“Kalau pengamatan saya, kita fokuskan energi kita untuk mengerjakan hal yang bisa meningkatkan value dari produk Indonesia agar bisa diterima konsumen. Bahkan konsumen di Indonesia saja itu sudah pasar yang besar,” kata Patricia.
Hal ini jika menyinggung tentang kualitas produk dan konsumen untuk memilih. Pertimbangan ramah lingkungan memang akan memberikan nilai dari sebuah produk. Namun hal tersebut belum cukup untuk bersaing bila yang dihadapi adalah fast fashion. Pengalaman Patricia ketika berkeliling membina para pelaku di industri slow fashion di Nusantara, permasalahan di bidang kualitas produk belum selesai.
Hal di atas yang menyebabkan barang fast fashion diminati meski sudah second hand. Setidaknya dalam hal kontrol kualitas sudah selesai. Para pembeli mendapatkan barang kualitas bagus dengan harga terjangkau. Yang mengkhawatirkan jika barang thrifting tersebut memang sudah tidak layak pakai sehingga Indonesia hanya akan dijadikan sebagai tempat sampah.
“Sebagai desainer, saya menemukan value dan pengetahuan teknologi dari era tertentu dari barang thrifting,” tambah Patrica. Misalnya, Patricia membeli kebaya thrifting. Dari sana ia bisa mengetahui bahan, teknik jahit, dan cutting pada masa kebaya itu dibuat yang mungkin berbeda dengan kebaya masa kini. Dari sana terkadang bisa menemukan solusi desain yang tak ditemukan pada produk baru.
Selain itu, barang thrifting bisa diperlakukan sebagaimana barang antik. Ada yang Anda inginkan namun sudah tidak diproduksi lagi, sehingga Anda hanya menemukannya di preloved. Atau hanya diproduksi dalam jumlah terbatas atau edisi koleksi sehingga untuk mendapatkan barang baru sudah sulit.
Di sisi lain, ada fenomena menarik pada Generasi Z dalam memandang barang thrifting. Menurut Alina Clough is an Energy & Environment Fellow with Young Voices and the American Conservation Coalition (ACC), etos program hemat, penggunaan kembali oleh masyarakat, dan hak untuk memperbaiki telah berevolusi dari sekadar ramah anggaran menjadi ramah iklim.
Sisi ekonomi menjadi cara ampuh untuk kampanye lingkungan. Di Indonesia, kalau hanya dari isu lingkungan saja, saat ini belum bisa menggerakkan massa secara masif. Hal ini sangat berbeda dengan boikot jenama ternama dunia karena isu kemanusiaan (perang) dan agama. Bagi Indonesia, isu lingkungan masih belum menjadi prioritas.
Thrifting tumbuh 11 kali lipat dibandingkan industri pakaian ritel dan diproyeksikan mencapai $77 miliar pada tahun 2025. Daya tariknya mencerminkan etos yang menghubungkan keputusan pribadi dengan keberlanjutan. Konsep keberlanjutan ini merupakan bagian dari gerakan “slow fashion” yang lebih besar yang mendorong para pengikutnya untuk berpikir terlebih dahulu sebelum membeli.
Industri fesyen menghasilkan dua kali lipat jumlah CO2 yang dihasilkan dari penerbangan dan transportasi laut, sehingga pendekatan yang lebih berkelanjutan terhadap fesyen bukanlah langkah kecil menuju pengurangan TPA dan aksi iklim.
Yang menggembirakan, pendekatan ini tidak hanya berhenti di toko fesyen atau toko barang bekas. Aktivis dan pengusaha mulai memperluas gerakan akar rumput dengan menggunakan sumbangan berbasis komunitas untuk mengekang konsumsi dan menyatukan masyarakat dalam upaya konservasi.
“Pada intinya bukan soal fast fashion maupun slow fashion, tapi kepedulian kita pada apa yang kita pakai dan peduli pada dampaknya terhadap lingkungan. Dan kepedulian butuh pengetahuan,” kata Patricia.
Hal penting yang perlu disebarkan adalah pengetahuan tentang proses barang dihasilkan dan seminimal mungkin mencemari lingkungan. Setelah punya pengetahuan, selanjutnya punya kemauan untuk menjalankan. Semakin banyak pengetahuan tentang fesyen yang ramah lingkungan maka harapannya akan makin banyak yang peduli pada kelestarian lingkungan. Kelestarian lingkungan menjadi pertimbangan sebelum membeli produk fesyen.



