Awarness tidak hanya dibentuk oleh rasa bersalah, tapi bisa datang dari kekaguman akan keindahan sehingga tumbuh rasa sayang untuk merusaknya. Kesan ini yang saya dapatkan ketika mengunjungi Festival Negeri Elok, 2-6 Februari 2024, The Brickhall Fatmawati, Jakarta Selatan.
Ketika diajak untuk menghadiri pameran ini, saya tidak berniat liputan. Benar-benar ingin datang sebagai pengunjung dan menikmati apa saja yang ada di sana. Pada masa kampanye, semua hal bisa dikaitkan dengan dukungan pada salah satu calon presiden (Capres). Pun pameran ini merupakan kerjasama antara Komunitas Kreatif Negeri Elok dengan Relawan Prabowo-Gibran.
Tak heran jika berita yang terbit setelah acara, semua terkait dengan kunjungan pasangan Capres dan Cawapres tersebut. Belum ada satu pun yang membahas tentang karya. Padahal karya yang disajikan sangat layak untuk dikabarkan. Kesan saya, pameran ini mampu menghadirkan pesan-pesan “berat” menjadi sebuah seni yang “ringan”, elegan, dan kreatif. Hal ini bisa menjadi menjadi inspirasi bagi kaum kreatif (tak peduli siapapun pilihan presidennya) untuk menyampaikan kampanye lingkungan, khususnya tentang keanekaragaman hayati dan krisis lingkungan yang mengancamnya.
Kesetaraan Manusia dan Pesan Jean Rene
Ketika kami datang, kami dipandu oleh inisiator Festival Negeri Elok, Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo atau lebih dikenal Didit Hediprasetyo untuk mengelilingi pameran. Saya mengenal karya-karya Didit ketika masih jadi managing editor The Actual Style, portal media fesyen yang eksis tahun 2013-2016. Pada masa itu, karya Didit adalah adalah karya desainer Indonesia yang bisa tampil di Haute Couture Fall 2014 Paris. Sebuah runway bergengsi yang menjadi impian para desainer dunia.
Ada beberapa desainer yang bisa membuat karya couture, namun untuk bisa tampil di Haute Couture Week harus mendaftar di FHCM (The Fédération de la Haute Couture et de la Mode), lembaga couture di Paris. Selain karyanya harus hand made dari mulai kain, menjahit, hingga menjadi busana, syarat yang lain harus memiliki workshop di Paris. Didit memiliki semua kriteria tersebut. Bila melihat karya-karya Didit, Paris sangat memengaruhi karya-karyanya.
Pun ketika mendesain pameran ini. Hampir semua karya ditampilkan dengan simpel, elegan, namun sarat makna. Paris, tempat Didit berkarya adalah pusat seni dunia. Saya bisa melihat cara penyajiannya yang mengingatkan pada bacaan tentang karya-karya seni di kota itu. Dimulai dari seni instalasi yang terdiri dari kolase portrait hitam putih dan video mapping yang juga hitam putih dalam lorong gelap dengan tema Kita Semua Sama.
“Foto-foto ini wajah para seniman dan desainer yang karyanya tampil di sini. Juga foto-foto portrait dari para pedagang di Jogja. Kita bisa lihat, semua sama di sini,” kata Didit. Sejumlah 63 portrait wajah ditampilkan sebagai foto dinding. Kita lihat, dalam tone warna yang sama, maka semua manusia itu sama.
Video mapping menampilkan keseharian masyarakat di jalanan di Yogyakarta. Pekerjaan sehari-hari, lanskap kota, alam, dan proses pembuatan karya seni. Semua orang melalui profesi masing-masing adalah keelokan negeri ini yang memberi kontribusi pada kemajuan.
Kolase portrait hitam putih ini mengingatkan pada karya JR, seniman asal Paris. JR merupakan pseudonim dari seorang seniman jalanan dan fotografer asal Prancis yang identitas awalnya dirahasiakan. Nama aslinya Jean René. Kini banyak informasi tentang karya dan kontribusinya dalam seni kontemporer yang tersedia untuk publik. Karyanya menggabungkan seni jalanan dan fotografi, dengan fokus pada tema-tema sosial dan politik.
Salah satu ciri khas karyanya, potret wajah-wajah besar yang dipampang di berbagai tempat di seluruh dunia. JR percaya bahwa seni bisa menjadi kekuatan untuk mengubah dunia dan menciptakan kesadaran sosial. Salah satu karya terkenalnya I Wish for You to Stand (2019). Seni instalasi raksasa di Washington DC yang menampilkan wajah-wajah para imigran. Karya ini bertujuan untuk memicu pembicaraan dan pemahaman tentang isu imigrasi. Banyak orang yang tergerak oleh karya ini, mengambil bagian dalam gerakan untuk mendukung hak imigran dan memerangi stereotip negatif.

Upcycling Fashion
Setelah mengelilingi pameran, beberapa karya yang ditampilkan memberikan perenungan. Misalnya pameran fesyen karya Sebastian Gunawan, Ghea Ananda, dan koleksi kebaya dari batik asal Solo. Khusus untuk kebaya yang ditampilkan yaitu kebaya kuthu baru dengan motif cerah. Kuthu baru merupakan desain kebaya yang tren pada tahun 1960-an. Pada masa itu, bangsa Indonesia membutuhkan sesuatu yang baru, pun desain kebaya yang diinisiasi dari dalam tembok keraton, salah satunya Keraton Solo. Meski dipadukan dengan batik motif tradisional seperti parang dan grudho (garuda), looks secara keseluruhan tidak jadul.
Pameran fesyen yang menunjukkan kepedulian pada lingkungan yaitu hadirnya produk fesyen dari daur naik (upcycling). Bisa terlihat dari beberapa ornamen upcycling yang ditempel di gaun dan busana. Juga tas dari kain yang dililit. Perlu dicatat, kadang produk upcycling maupun recycle hanya mengemban value, bukan desain. Orang memakai hanya karena ingin menunjukkan keberpihakan pada lingkungan dengan mengorbankan desain. Kadang barangnya tidak bagus, tapi terpaksa dikenakan dan dijual. Hasilnya, orang membeli hanya karena keberpihakan bukan karena kualitas. Namun di stand ini, misi dan desain disajikan dalam satu kesatuan. Meski dari limbah tekstil, konsumen akan nyaman dan bangga mengenakannya.
Kisah Sehelai Daun Ganja dan Pertanyaan tentang Keragaman Hayati Indonesia
Setelah seni instalasi dan fesyen, kami melihat seni dua dimensi yaitu seni grafis dan lukisan. Pameran ini bertajuk Negeri Elok, maka kita akan disuguhi keelokan negeri Nusantara yang sudah menjadi jargon: alam yang indah dan keragaman hayati yang tinggi. Sudah sangat familiar kan slogan ini? Tapi pernahkah berpikir, bahwa kekayaan itu tidak menjadi apa-apa jika kita tak tahu cara menempatkan dan menggunakannya. Dimulai dari sehelai daun yang paling kontroversial, daun ganja (Cannabis sativa).
Atas Nama Daun untuk Negeri Elok, video mapping karya Angkin Purbandono menampilkan keberagaman daun seolah ingin menyuarakan “ketertindasan” tumbuhan ini. Perlu dicatat, di karya yang dipamerkan ini tak ada selembar pun daun/foto daun ganja. Hanya idenya memang dari pengalaman hidupnya terkait dengan daun itu. Herbarium alias awetan tumbuhan dalam botani ditampilkan dalam perpaduan seni dan teknologi sehingga kita akan “ringan” dalam menikmati.

“Awalnya saya tidak punya ketertarikan terhadap dunia botani tetapi ada salah satu latar belakang hidup saya yang akhirnya memengaruhi saya untuk mengeksplore dunia botani,” kata Angki.
Dimulai pada tanggal 12 bulan 12 tahun 2012, Angki tertangkap karena menyimpan dan menggunakan ganja. Ia divonis satu tahun untuk menjalani hukuman penjara khusus narkotika di Yogyakarta. Setelah keluar dari penjara, ia mulai merespon ingatan-ingatan penjara menjadi dasar pemikirannya untuk menggunakan daun ganja sebagai kata kunci awal. Ia mulai mencari daun-daun yang dianggap tidak bersalah/tidak di penjara. Angki mempertanyakan, dari penggunaan jutaan daun di dunia ini, entah kenapa penggunaan daun ganja dilarang keras bahkan terlalu keras di Indonesia. Padahal fungsi dan khasiatnya sudah terbukti tidak berbahaya bagi tubuh manusia bahkan bisa menjadi bahan pengobatan.
Di Indonesia, bukan saja Angki yang menyimpan kegelisahan ini. Tahun 2013, saya pernah menulis untuk majalah Intisari tentang buku Hikayat Pohon Ganja dan wawancara dengan LGN (Lingkar Ganja Nasional). Sebuah forum yang memperjuangkan khasiat ganja. Selain itu, National Geographic juga pernah menurunkan artikel yang lengkap tentang manfaat ganja secara medis dan pelegalannya di beberapa negara.
Selain “pledoi” tumbuhan yang dianggap bersalah, karya Angki merupakan sebuah konsep tentang keberagaman (Bhinneka Tunggal Ika) yang ada di Indonesia. Keragaman ini bila disatukan akan menjadi sebuah satu keindahan yang tidak terbantahkan keelokannya.
“Pesannya adalah keberagaman di Indonesia sudah selayaknya untuk selalu diberi ruang gerak dan nafas yang seimbang/adil demi keutuhan negara ini,” kata Angki. Daun-daun yang ditampilkan di sini berdasarkan keindahan bentuk dan transparansi daunnya apabila terkena cahaya. Selain itu, sebagian daun-daun tersebut berfungsi sebagai bahan makanan dan obat herbal.
Catatan selanjutnya tentang keragaman hayati Indonesia. Kebetulan saya belajar dengan flora fauna endemik Indonesia. Ketika melihat aneka flora fauna endemik tampil dalam balutan seni kontemporer dan teknologi, inilah perpaduan yang menarik. Sejauh ini, biodiversitas kerap kali hanya menjadi monopoli para ilmuan botani. Ketika disajikan pun narasinya “berat”.

Mulai dari flora, kita melihat lukisan dalam kanvas lingkaran karya Riri. Kita disuguhi anggrek hitam (Coelogyne pandurata), flora yang dilindungi asal Kalimantan. Selain itu, di sisi lain juga menampilkan anggrek berwarna hitam, yang kerap salah diartikan sebagai anggrek hitam papua yang sesungguhnya adalah anggrek hibrida, bukan anggrek alam Indonesia yaitu Cymbidium Kiwi Midnight ‘Geyserland’. Anggrek berwarna hitam ini tidak ada di hutan Indonesia. Berbeda dengan anggrek hitam asal Kalimantan yang sesungguhnya lidahnya saja yang hitam, ada di hutan alam Kersik Luway, Kalimantan Timur.
Di lingkaran kanvas yang sama, Riri menampilkan anggrek vanda tricolor (Vanda tricolor). Anggrek ini menjadi flora identitas Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Anggrek alam yang tumbuh di lereng Gunung Merapi dan sudah banyak dibudidayakan di Indonesia.
Selain flora khas dan dilindungi UU, Nasirun menampilkan lukisan yang menggambarkan etnobotani. Kembang Telon, judul lukisan karya pelukis Yogyakarta ini menampilkan tiga bunga penting bagi falsafah Jawa yaitu mawar (Rosa spp.), melati (Jasminum sambac), dan kenanga (Magnolia champaca). Tiga bunga ini melambangkan tritunggal jaya sampurna yaitu terpenuhinya harta, ilmu, dan kekuasaan/kedudukan. Lukisannya pun membentuk lekuk bunga sebagaimana seni sungging dalam wayang kulit.

Tak hanya flora, fauna khas dan endemik pun ditampilkan dalam bentuk desain yang memikat. Misalnya lukisan repetitif jalak bali (Leucopsar rothschildi) karya Cinanti Astria Johansyah. Burung endemik Bali Barat ini pernah hampir punah karena perburuan dan habitat asalnya rusak. Karya lukisan ini menampilkan keindahan mata jalak bali yang ditampilkan berulang-ulang hingga kita akan mengaguminya dan peduli keberadaannya. Tidak harus menampilkan burung yang utuh sebagaimana brosur konservasi sehingga pesannya lebih artistik.
Nah, hal menarik di sini adalah “brosur” wisata, tempat-tempat indah, dan lanskap Indonesia ditampilkan dengan grafis dan konsep komik. Mulai dari Tanjung Puting (Kalteng), Bromo (Jawa Timur), Yogya (DI Yogyakarta), Gili Tramena (NTB), Bandung (Jabar), Borobudur (Jateng), Tangkuban Parahu (Jabar), Tana Toraja (Sulsel), dan Raja Ampat (Papua Barat). Selain dalam bentuk brosur, karya tersebut juga ditempel sebagai lukisan di dinding.
Selamat memaknai keelokan negeri, siapapun nanti pemimpinnya.



