Dalam keheningan pagi, sebuah ritual sederhana berlangsung di jutaan rumah di seluruh dunia: meneguk secangkir kopi. Namun, di balik kebiasaan ini, tersembunyi sebuah krisis yang mengancam keberadaan momen pagi yang sakral ini.
Pada sebuah pagi saya duduk menghadap meja bundar di depan meja bar kedai kopi yang baru saya buka. Saya memesan secangkir kopi, dan mulai membuka lembar-lembar koran langganan. Di sebuah halaman, mata saya terpaku pada sebuah poster iklan yang dipasang seperempat halaman. Sebuah iklan dengan visual yang sederhana; foto sebuah cangkir berisi bubuk kopi, dengan teks pendek “Bayangkan Jika Tidak Ada Air”.
Saya harus minum kopi setiap pagi, saya juga baru saja membuka usaha kedai kopi. Iklan tersebut begitu relevan dengan saya, seolah-olah memang ditujukan kepada saya. Saya terhantui oleh foto dan teks di iklan tersebut, pikiran saya ke mana-mana. Saya membayangkan bagaimana kelak jika tidak ada air, bagaimana saya bisa ngopi. Itu baru satu soal, dan itu sudah membuat gelisah.
Iklan itu dari sebuah merek produsen pipa air. Untunglah lamunan kegelisahan saya segera buyar setelah tamu yang saya tunggu datang. Pagi itu, Yu Sing –arsitek kenamaan yang konsen pada bangunan yang adaptif dengan lingkungan, mampir ke kedai saya. Ia baru saja melakukan survei di Hutan Kota Joyoboyo, Kediri, Jawa Timur, untuk ia bantu desain menjadi hutan yang tidak hanya menjadi paru-paru kota, tapi juga ruang publik yang mengakomodir kebutuhan aktivitas warga.
Saya sudah hampir melupakan kejadian tersebut kalau saja beberapa tahun kemudian saya tidak membaca akun Instagram Greenpeace Indonesia, bahwa 60 persen spesies kopi akan punah pada 2050 karena krisis iklim. Greenpeace mengutip hasil penelitian Kew Royal Botanic Garden yang menyatakan sekitar 75 spesies kopi dinilai terancam punah: 13 diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah, 40 spesies terancam punah, termasuk kopi arabika, dan 22 spesies rentan.
View this post on Instagram
Para ilmuwan di Kew Royal Botanic Gardens, Inggris, menggunakan teknik pemodelan komputer terbaru dan penelitian lapangan untuk memprediksi bagaimana 124 varietas kopi yang terdaftar sebagai kopi terancam punah akan berdampak pada kondisi bumi yang terus memanas dan ekosistem yang hancur.
“Secara keseluruhan, fakta bahwa risiko kepunahan semua spesies kopi sangat tinggi—hampir 60 persen—jauh di atas angka risiko kepunahan tanaman pada umumnya,” kata Aaron Davis, kepala penelitian kopi di Kew, kepada AFP.
Prediksi ini begitu menakutkan, apalagi saya yang berkecimpung di bisnis kopi –selain saya juga setiap pagi ketergantungan kopi. Saya juga tidak bisa membantahnya, karena setidaknya pada akhir 2022 hingga pertengahan 2023 saya menyaksikan sendiri bagaimana petani kopi di Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur harus berjuang hidup karena tanaman kopi mereka menurun drastis produktivitasnya.
Bersama kawan saya, fotografer Yoppy Pieter pada periode waktu yang saya sebut itu, kami sedang terlibat sebuah proyek buku foto yang mendokumentasikan perkebunan kopi di sana. Hasil wawancara kami dengan petani, hujan yang berkepanjangan pada akhir 2022 hingga awal 2023 membuat bunga dan bakal buah kopi rontok. Dampaknya, 30 persen kopi petani rusak.

Harga kopi Robusta di Dampit (juga di Indonesia) memang mengalami peningkatan karena berkurangnya produksi. Kopi produksi petani yang pada tahun 2022 lalu hanya dihargai Rp 23.000 per kg, tahun itu per 16 Juni 2023 harga beras kopi (biji hijau atau green bean) belum sortir dihargai Rp 42.000 per kg. Namun kenaikan ini sebenarnya tidak mencerminkan petani mendapatkan untung. Biaya produksi di perkebunan meningkat drastis, petani mengeluhkan pupuk yang langka dan harganya terus meningkat.
Suplai green bean untuk roastery menjadi langka, di hilir kedai kopi tidak punya pilihan harus mencari suplai roasted bean, apalagi kopi robusta Dampit yang digandrungi konsumen. Dan bukan perkara mudah bagi kami untuk tiba-tiba mengganti supplier, penggemar kopi sudah punya fanatisme tertentu. Jika house blend kami ganti tiba-tiba, pelanggan bisa membedakannya.
Itu belum dari sisi product development, berganti satu bahan saja (roasted bean), bagi produk yang mengandung campuran bahan lain seperti susu atau sirup, kami harus menghitung ulang gramasi bahan baku. Apalagi jika itu menyangkut menu paling laris di kedai kami: kopi susu!
Makanya prediksi itu tentu saja menakutkan. Dan itu menjadi alasan saya untuk mengajak Anda para pembaca, kita semua memang sudah harus bergandeng tangan untuk bersama-sama terlibat dalam aksi-aksi perubahan iklim. Kita pasti terdampak, Anda, saya dan juga orang-orang tercinta kita tidak pernah bisa menghindarinya.
Coba saja Anda bayangkan, betapa menakutkannya membayangkan bahwa ritual pagi kita setiap hari dengan meneguk secangkir kopi tiba-tiba itu kelak tidak bisa kita nikmati lagi. Maka, jika Anda bisa menangkap kegelisahan saya dan dalam hati menyetujuinya, bagikan saja tulisan ini. Semoga orang-orang yang Anda bagi juga terketuk hati untuk ikut dalam barisan aksi melindungi bumi.



