Ekspedisi Kalteng 2024 #6: Lima Jenis Ikan Menghilang dari Sungai Katingan, Ke Mana Mereka?

Selama ekspedisi, kami tak bosan makan ikan. Dengan bumbu minimalis dan cara memasak yang sederhana mampu menyajikan rasa mewah dari ikan air tawar: gurih dan lembut. Rupanya, keragaman ikan tak sekaya dulu.

Kalimantan Tengah dibangun dari peradaban sungai berabad-abad silam. Sungai menghidupkan perekonomian, mendorong pertumbuhan desa, dan kota bahkan mendorong kerajaan-kerajaan di bumi Kalimantan.

Bagi kami, peradaban itu menjadi sederhana ketika tersaji di meja makan. Menu ikan yang tersedia di hampir semua warung tenda hingga restoran. Ikan tangkapan nelayan yang baru “mati sekali”. Istilah itu untuk ikan segar yang ditangkap dari sungai dan langsung dimasak. Bukan ikan hasil tangkapan yang berkali-kali masuk lemari pendingin sehingga mati berkali-kali. Ragam ikan sungai yang kerap terhidang antara lain seluang, baung, lais, nilem, dan lain-lain.

hutanhijau.org
Tim Ekspedisi Hutan Hijau 1.0 menyusuri Sungai Katingan. Foto: Arief Priyono/Hutan Hijau

“Dari hitungan kami, ada 5 jenis ikan yang udah nggak ada lagi. Salah satunya yang dulu sering diburu kan arwana merah. Bahkan warna perak itu sekarang udah enggak ada lagi,” kata Jeki, nelayan sekaligus Ketua Simpul Wisata Kamipang. Ia adalah pemandu kami ketika menyusuri Resort Punggualas dan Sungai Katingan.

Di tepi Sungai Katingan, kami berhenti untuk melihat rantai proses produksi sepiring ikan bakar yang kami santap setiap harinya. Rantai itu bermula dari jaring besar berbentuk kubus dengan ukuran 3x3x3 m yang dipasang di pinggir sungai. Aliran dan tata letak sekat di dalam kubus itu menjadikan ikan yang masuk sulit menemukan jalan keluar. Begitulah cara kerja perangkap ikan yang dipasang oleh hampir semua nelayan di pinggir Sungai Katingan. Mereka meletakkannya dalam 3-7 hari, baru diangkat dengan katrol.

hutanhijau.org
Seorang nelayan Dayak menyerok ikan dari jaring perangkap ikan di Sungai Katingan, Kalimantan Tengah. Foto: Arief Priyono/Hutan Hijau

Pada saat Jeki menunjukkan kepada kami, kebanyakan ikan saluang yang tertangkap. Hari itu, dia tidak memanennya. Ia memasukkan jaring itu kembali, membiarkan untuk mendapatkan ikan yang lebih besar.

Sungai Katingan adalah salah satu sungai yang mengapit Taman Nasional Sebangau. Noviyanti Nugraheni dalam buku Titik Balik Sebangau (2017) yang diterbitkan TN Sebangau dan WWF mencatat, setidaknya ada 36 jenis ikan yang ada di TN Sebangau. Ada ikan asli dan ada ikan musiman.

Jenis ikan asli antara lain ikan betok (Anabas testudineus), kapar (Belontia hasselti), ikan gabus (Chana lucius), lele (Claria sp.), nilem (Osteochilus sp.), julung-julung (Hemirhamphodon sp.), ikan serius (Luceocephalus pulcher), ikan daun (Pristolepis grootii), dan ikan tapah (Wallago leeri). Ikan ini mampu bertahan di air gambut yang miskin nutrisi dan berkualitas buruk.

Sedangkan ikan musiman antara lain baung tegeh (Mystus nemurus), ikan tengadak (Barbodes schawanenfeldi), ikan sili (Macrognathus sp.), patin (Pangasius sp.), lais (Kryptoterus sp.), dan udang galah (Macrobrachium sp.) Ikan-ikan ini akan datang pada musim hujan. Saking banyaknya ikan musiman, banyak nelayan dari luar Desa Kereng Bangkirai datang untuk menangkap ikan di Sungai Katingan. Bahkan mereka sampai membangun pondok untuk tinggal hingga 2 minggu untuk berteduh demi mendapatkan rezeki musiman ini.

Lima Jenis Ikan Mulai Menghilang

Jeki menyebutkan 5 jenis ikan yang mulai sulit dicari di Sungai Katingan dan di Punggualas yaitu arwana, sepat tumbuk (Trichopodus), peyang-jenis ikan gabus (Channa maruloides), lais, dan seluang jenis tertentu.

Arwana merupakan ikan paling mahal, apalagi arwana merah (Scleropages formosus). Dalam ingatan belia Jeki, ikan ini dulu sangat mudah dicari. Di pinggir sungai pun mudah untuk mengetahui keberadaan ikan arwana. Caranya dengan melihat adanya burung bangau di pinggir sungai dapat dipastikan ada ikan arwana.

“Jadi petunjuknya pakai burung itu. Burung bangau itu mencari anak ikan arwana,” kata Jeki.

hutanhijau.org
Seorang pemancing di Resort Punggualas, Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Foto: Arief Priyono/Hutan Hijau

Selain ikan arwana, masyarakat Punggualas dulu mudah mendapatkan ikan peyang. Ikan ini jenis ikan gabus. Masyarakat Punggualas biasanya mendapatkan ikan peyang ini dengan cara memancing di sungai.

“Peyang, channa maru itu kan banyak sekali. Mancing saja di pinggir sungai sudah dapat itu,” kata Jeki.

Lalu ikan yang biasanya mudah ditemukan nelayan juga pemancing adalah sepat tumbuk. Kalau jenis sepat yang umum, masih banyak. Tapi jenis yang langka adalah jenis yang ada bintik putih di atas kepalanya. Menurut Jeki, ikan sepat tumbuk kian sulit ditemukan oleh nelayan sungai.

Pun jenis lais dan seluang. Ikan lais sampai saat ini masih mudah dicari oleh masyarakat. Akan tetapi ada jenis tertentu dari ikan lais yang mulai sulit dicari.

Begitu juga dengan ikan seluang. Masyarakat Punggualas masih dapat mencari ikan seluang, hanya jenis lain dari seluang yang dianggap sudah tidak pernah ditemui oleh pencari ikan di pinggir Sungai Punggualas.

“Seluang, kan ada banyak jenisnya. Cuma ada satu jenis yang nggak ada. Satu jenis lais yang bakal hilang. Karena sangat jarang sekali dilihat,” imbuh Jeki.

Kelangkaan ikan di Punggualas ini dinilai Jeki adanya pengaruh musim yang berubah dari tahun ke tahun. Meskipun, ia juga tidak bisa memastikan apa penyebab hilangnya ikan-ikan endemik Punggualas tersebut.

Zeen is a next generation WordPress theme. It’s powerful, beautifully designed and comes with everything you need to engage your visitors and increase conversions.