Preloved bukan hanya karena murah, tapi sudah jadi gaya hidup ramah lingkungan. Begitu juga kepedulian perusahaan fesyen dan para stakeholder industri fesyen, bersama-sama mengurangi sampah dari industri gaya hidup ini.
Industri fesyen menyumbang sekitar 4% dari emisi gas rumah kaca global dan berkontribusi terhadap seperlima dari 300 juta ton plastik yang diproduksi setiap tahunnya. Hal ini disampaikan dalam laporan McKinsey & Company berjudul Fashion on Climate, yang diterbitkan pada Agustus 2020.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa industri fesyen bertanggung jawab atas sekitar 2,1 miliar ton emisi gas rumah kaca pada tahun 2018, yang setara dengan 4% dari total emisi global.
Sementara itu, Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2021) mencatat bahwa Indonesia menghasilkan 2,3 juta ton limbah tekstil per tahunnya.
Jumlah yang cukup besar di balik gemerlap keindahan fesyen. Oleh sebab itu, beberapa inisiatif mulai trend untuk mengurangi sampah dari fesyen. Misalnya, anak-anak muda sekarang tidak malu untuk belanja preloved atau thrifting.
“Kadang-kadang di thrifting, kita menemukan ‘harta karun’. Yang jelas, produk thrifting dari brand-brand ternama, secara produksi sudah ‘selesai’. Sudah terkurasi dalam hal mutu,” kata Patricia Sandjaja, pendiri sekolah fashion, Phalie Studi di Jakarta.
Dulu, belanja baju bekas identik dengan kaum tidak mampu. Kini, menjadi tren. Selain harga miring, anak-anak muda juga semangat untuk mengurangi sampah.

“Kehidupan Kedua” Busana Kita
Ketika industri fast fashion berkembang, maka diikuti dengan busana yang menumpuk di lemari kita. Fast fashion memberikan harga terjangkau dan koleksi yang terus berganti setiap musim. Data Kementrian PPN/ Bappenas, Embassy of Denmark, UNDP, menyampaikan bahwa 3 dari 10 orang Indonesia membuang pakaian yang tidak diinginkan setelah memakainya sekali. Terbayang, busana yang masih bagus menjadi sampah.
Oleh sebab itu, beberapa perusahaan dan komunitas melakukan aksi untuk memberikan “kehidupan kedua” bagi produk fesyen ini. Skemanya bukan hanya bantuan sosial seperti yang sudah umum. Misalnya memberikan busana pantas pakai pada korban bencana.
Di Indonesia, ada Lyfe With Less. Komunitas ini mengusung gaya hidup minimalis dan berkelanjutan di Indonesia. Mereka mengajak masyarakat mengurangi konsumsi berlebihan dan hidup lebih sadar lingkungan. Melalui berbagai kegiatan seperti diskusi, lokakarya, dan kampanye sosial, Life With Less Indonesia mendorong anggotanya untuk menerapkan prinsip “hidup cukup” dan bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan dari pilihan hidup sehari-hari.
Akti terkait busana, Lyfe With Less menyelenggarakan Bersaling Silang. Bertukar barang bekas layak pakai gratis dengan sistem barter terkurasi, sesama peserta event. Kegiatan ini rutin setiap bulan di berbagai kota di Indonesia. Dari Jakarta, Bogor, Bandung, hingga Surabaya. Kampanye ini juga mengajak peserta untuk adaptasi nyata salah satu aksi sustainable, dengan mengurangi konsumsi barang baru, mengurangi clutter, menggunakan kembali & memperpanjang umur barang.
Aksi “memberikan kehidupan kedua” ini berupa tukar-menukar busana atau menyelenggarakan bazaar preloved. Salah satunya, dilakukan oleh marketplace Zalora.
“Keberlanjutan bukan sekadar komitmen bagi kami di ZALORA, tapi sebuah perjalanan bersama pelanggan, mitra, dan komunitas,” ujar Christopher Daguimol, Direktur Komunikasi Korporat ZALORA Group.
Bersama mitra seperti The Salvation Army, Life Line Clothing, dan Tukar Tambah Celana, ZALORA mengelola limbah tekstil dengan memberi pakaian bekas kehidupan kedua—entah sebagai barang donasi atau bahan untuk produk baru. Sepanjang tahun lalu, lebih dari 34 ton pakaian berhasil diselamatkan dari tempat pembuangan akhir dan disalurkan untuk membantu komunitas lokal.
Kemasan yang Lebih Berkelanjutan
Selain menangani sampah dari baju, ada hal menarik lain yang dilakukan oleh marketplace fashion ini. Penjualan via daring tentu terkait dengan pengemasan. Sebagai bagian dari komitmen dalam membangun ekosistem fesyen sirkular, ZALORA aktif mendukung inisiatif yang mendorong konsumsi berkelanjutan.
Mengutip laporan People and Planet Positive Report dari GFG (Global Fashion Group), holding company dari Zalora, marketplace ini menggunakan kemasan ramah lingkungan. Kemasan tersebut terdiri dari flyer dari polietilena daur ulang bersertifikat RCS 100%,dan kotak mewah dari 100% bahan daur ulang.

Tak hanya itu, bahan pengisi kertas juga dilacak sumbernya. Bukan dari produksi yang merusak lingkungan. Otomatisasi di gudang pemenuhan ZALORA memungkinkan pengemasan khusus yang menghilangkan pegangan dari semua ukuran kantong kirim, mengurangi penggunaan material kemasan secara signifikan.
Atas pencapaiannya tersebut, ZALORA diundang untuk bekerja sama dengan Singapore Alliance for Action (AfA) on Packaging Waste Reduction untuk sektor e-commerce, guna membantu merumuskan solusi pengemasan berkelanjutan. AfA dipimpin bersama oleh Singapore Manufacturing Federation (SMF) dan Singapore Post (SingPost), dengan dukungan dari National Environment Agency (NEA).
“Dari aksi iklim hingga pembangunan ekosistem fesyen sirkular, kami membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari perubahan kecil. Menatap 2025, kami akan terus melanjutkan upaya baik ini demi masa depan yang lebih berkelanjutan untuk semua,” tambah Christopher Daguimol.



