Suhu panas ekstrem beberapa bulan terakhir ini menjadi ancaman serius bagi penduduk di Asia Tenggara. Panas ekstrem ini dirasakan beberapa negara Asia Tenggara mencapai di atas 43°C. Kondisi ini meresahkan untuk petani kopi di Dataran Tinggi Bolaven, Laos. Panas ekstrem yang dirasakan ini telah merusak pohon kopi yang ada di kebun miliknya. Tak hanya buah kopi, akan tetapi pohon kopi arabika yang dimiliki Buasy Huay Jied menjadi layu dan kering.
“Panas yang sangat ekstrem menghantam lahan dua hektar saya di Huaykhodnoy,” kata Buasy, petani kopi dikutip dari slowforest.com.
Panas ekstrem berkepanjangan ini menjadi ancaman serius bagi petani berskala kecil di Laos. Meskipun, ia sudah berusaha melindungi pohon kopi dengan pohon yang lebih besar untuk melindungi dari sinar matahari. Sayangnya, upayanya tak membuahkan hasil cukup baik untuk pohon kopinya.
“Saya telah mencoba menanam pohon pelindung di plot lain, tetapi di sini pohon-pohon tersebut belum tumbuh cukup besar untuk menutupi semuanya. Semua tanaman kopi saya yang terkena sinar matahari langsung mati,” terang Buasy.
Ia memperkirakan dapat kehilangan 30% tanaman arabika dan bisa lebih besar lagi pada buah kopinya.
Dia mencoba memotong batang dan menunggu cabang baru tumbuh. Hanya beberapa tanaman yang bisa diselamatkan dengan cara ini, tetapi mereka juga membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun sebelum menghasilkan buah kopi lagi.

Rekor April Terpanas
Cerita Buasy tentang kondisi pohon kopinya itu baru kali ini dirasakan. Menurutnya, ini kondisi terburuk bagi petani kopi. Dalam dua atau tiga musim sebelumnya, Buasy dapat menghasilkan panen paling sedikit 15 ton dan paling banyak 18 ton ceri arabika. Sedangkan dengan panas yang saat ini dirasakan, Buasy memperkirakan hasil ceri arabika hanya mencapai 12 ton pada panen tahun ini.
“Saya telah menanam kopi selama 27 tahun di sini, tetapi tidak pernah terjadi hal seperti ini,” kata Buasy.
Berdasar data layanan meteorologi Laos mencatat suhu terpanas yang terjadi pada tanggal 26 April yang mencapai 43,2°C. Laporan pemberitaan menunjukkan kenaikan suhu panas di Laos terjadi sejak pertengahan Februari.
Di ladang kami di Laos, manajer negara kami Madrira Bopanna mengatakan
Suhu ini terus meningkat dari Januari hingga April 5°C lebih tinggi dari biasanya. Beberapa tanaman menunjukkan tanda-tanda layu pada daun dan ranting. Bahkan, hasil panen dan pertumbuhan tanaman tahun depan masih akan terpengaruh karena panas membuat pematangan buah kopi tidak merata dan mempengaruhi hasil panen.
Panas Ekstrem Menjadi Masalah Bersama di Kawasan Asia Tenggara
Perubahan iklim ini tak hanya terjadi di Laos saja. Gelombang panas yang membuat cuaca ekstrem juga memperburuk kondisi kekeringan di seluruh kawasan. Seperti di Nguyen Dinh, Vietnam juga merasakan hal yang sama. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sebuah lembaga kajian iklim PBB telah memperingatkan bahwa frekuensi gelombang panas meningkat sejak pertengahan abad ke-20 di banyak bagian Asia.
Kepala Dampak di Vietnam, Dai, menyatakan bahwa perlu upaya yang lebih besar untuk membantu petani beradaptasi, karena kopi bukan hanya minuman penting tetapi juga mata pencaharian bagi jutaan petani kecil di seluruh dunia.
“Di wilayah penghasil utama saat ini, sistem pertanian harus beradaptasi dengan kondisi yang berubah,” kata Dai.
Agroforestri bisa menjadi penyelamat dengan memberikan naungan, sehingga kopi terlindungi dari panas ekstrem. Pada musim hujan, pohon naungan melindungi tanah dari erosi.
“Kami bekerja dengan ratusan petani kecil untuk beralih dari monokultur ke agroforestri kopi. Kami membantu mereka dengan bibit dan menyediakan sumber daya yang mereka butuhkan untuk membangun ketahanan dalam sistem baru ini,” terangnya.
Rekor Panas Tertinggi di Indonesia 40 Tahun Terakhir
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dilansir CNBC, anomali suhu udara rata-rata di Indonesia pada April 2024 menunjukkan peningkatan sebesar 0,89°C. Anomali suhu udara pada April 2024 ini mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah pengamatan sejak tahun 1981.

Jika dilihat dari suhu rata-rata bulanan, suhu udara pada April 2024 yang mencapai 27,74°C juga merupakan yang tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Sebelumnya, suhu tertinggi tercatat pada April 2016 dengan 27,6°C.
Menurut BMKG, suhu udara normal klimatologis untuk April 2024 di Indonesia, berdasarkan periode 1991-2020, adalah sebesar 26,85°C padahal suhu udara dalam kisaran normal 20,08°C – 28,63°C.
Analisis dari 115 stasiun pengamatan BMKG menunjukkan suhu terpanas dicatat oleh Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak di Surabaya, Jawa Timur, dengan 29,8°C, sementara suhu terdingin dicatat oleh Stasiun Meteorologi Silangit di Tapanuli Utara, dengan 20,5°C.
Meskipun suhu pada April tahun ini meningkat signifikan, levelnya belum mencapai rekor terpanas dalam sejarah Indonesia. Rekor suhu tertinggi tercatat pada 40°C di Larantuka, Nusa Tenggara Timur, pada 5 September 2012.



