hutanhijau.org

Jika Abrasi Tak Diatasi, Gurihnya Bandeng Mengare, Gresik Tak Bisa Dinikmati Lagi

Tahun 2023 merupakan tahun buruk bagi petambak bandeng di Pulau Mengare. Akibat abrasi, bandeng kabur, petambak rugi hingga 100 milyar. Abrasi dan sedimentasi menyertai narasi Mengare sejak zaman Belanda hingga muara pun dipindah. Beratus tahun kemudian, kawasan pantai utara Jawa Timur ini tetap tak berdaya menghadapi gelombang. Andai hutan bakau bisa berdaulat untuk menjaganya.

“Kalau dihitung, masing-masing petambak bandeng rugi antara 1-3 milyar karena tambak rusak. Kalau ditotal, di Mengare saja bisa sampai 100 milyar tahun lalu (2023-red),” kata Zaini, Ketua Bumdes Watuagung, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, 14/02/2024.

Zaini dan petambak di desa ini rata-rata mengelola tambak bandeng antara 3,5-4 hektar. Jika abrasi menerjang, tambak jebol, ikan bandeng yang ada di dalamnya pun kabur. Bahkan tak jarang, bandeng yang siap panen tinggal beberapa hari lagi. Jika sudah demikian, tak ada yang bisa dilakukan selain pasrah.

Abrasi merupakan masalah yang dihadapi kawasan tambak bandeng di Gresik. Dari hasil penelitian Universitas Brawijaya, selama 48 tahun (1973 -2021) di Pesisir Ujung Pangkah mengalami akresi dan abrasi.

Akresi adalah perubahan garis pantai menuju laut lepas karena adanya proses sedimentasi dari daratan atau sungai menuju arah laut. Akresi tertinggi terjadi di Pesisir Ujung Pangkah memiliki jarak akresi rata-rata sebesar 736,29m dan laju akresi rata-rata sebesar 82,54meter/tahun.

hutanhijau.org
Tanah loloran bekas tambak bandeng di Mengare. Foto: Titik Kartitiani

Sedangkan abrasi tertinggi di Pesisir Ujung Pangkah memiliki jarak abrasi rata-rata sebesar -416,53 m dan laju abrasi rata-rata sebesar -37,79meter/tahun. Faktor penyebab perubahan garis pantai antara lain faktor hidro oseanografi dan faktor antropogenik (faktor manusia). Kegiatan manusia yang berpengaruh pada abrasi dan akresi yaitu kegiatan pengerukan pasir oleh masyarakat, penggunaan kawasan sebagai tambak, sawah, dan pemukiman.

Meski penelitiannya mengambil lokasi di Ujung Pangkah, hal serupa bisa menjelaskan fenomena yang terjadi di Mengare. Berdasarkan studi di tahun 2017, laju abrasi di Gresik terbilang ekstrem, yakni mencapai 5,15km2 dalam 15 tahun terakhir, atau setara 0,34km2/tahun.

hutanhijau.org
Data Abrasi di Pantai Utara Pulau Jawa. Desain oleh Rony Setiyawan/Hutan Hijau

Orang Mburi dan Makna Sosial Panen Bandeng

Bandeng adalah urat nadi perekonomian di Pulau Mengare.  Kawasan ini terletak di sebelah barat daya Kecamatan Bungah, Kab.Gresik dengan jarak 12km dari pintu masuk Desa Sembayat. Mengare terbagai menjadi 3 desa, yaitu Desa Watuagung, Kramat, dan Tajungwidoro.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menjelaskan bahwa terdapat 16.158 petani ikan di 18 kecamatan di Kabupaten Gresik. Tambak payau seluas 15.601,26ha dengan produksi 90. 398 ton. Dari perhitungan panen ini, 60% produksi bandeng Jawa Timur disumbang oleh Kabupaten Gresik. Jumlah produksi bandeng di Jawa Timur sebesar 170.389 ton.

Bukan hanya sekadar angka dan ekonomi, bandeng bagi masyarakat Mengare adalah makna sosial. Hal ini saya rasakan ketika saya mengikuti panen bandeng di Mengare pada Februari 2022. Pertama kali melihat, saya tidak menyangka bahwa panen bandeng bukan hanya pekerjaan pemilik tambak, namun pesta bagi seluruh desa.

Awalnya, tersiar kabar bahwa sore itu akan ada panen di salah satu tambak. Sejak pukul 14.00 WIB, masyarakat, baik yang melakukan panen maupun yang hanya sekadar menonton, sudah bersiap di pinggir tambak. Kenapa yang nonton pun antusias? Selain seru melihat panen, nanti mereka juga dapat bagian. Namanya “mburi” atau “wong mburi”.

hutanhijau.org
Menggiring bandeng ke tepi pada saat panen bandeng. Foto: Titik Kartitiani

Sekitar pukul 15.00 WIB, belasan laki-laki akan masuk ke tambak dan membentangkan jaring mengelilingi tambak. Selanjutnya, jaring tersebut ditarik makin menyempit, sedikit demi sedikit.  Perjalanan melingkar ini bisa sampai 2 jam. Ketika sudah sempit, kita akan melihat ikan bandeng mulai berloncatan lalu mati. Tak berapa lama, setelah semua bandeng mati, diangkat ke pinggiran kolam lalu dimasukkan ke drum plastik. Di sinilah, ikan bandeng dibagi-bagi.

“Para laki-laki yang tadi membantu panen, mendapat bagian sesuai kesepakatan. Jadi mereka tidak dibayar uang, melainkan dibayar dengan bandeng,” kata Zaini. Di sini terlihat gotong royong dari sesama warga. Mereka akan berpindah-pindah membantu panen dari satu tambak ke tambak lain.

Yang tak kalah seru, orang-orang yang tadi menonton juga mendapat bagian. Mereka mendapat 1-5 ekor untuk dibawa pulang. Namanya dapat “mburi”. Dalam bahasa Jawa artinya belakang. Jadi bagian yang diberikan lewat belakang.

Setelah semua kebagian, maka ikan bandeng dimuat di perahu yang sudah dipenuhi dengan es batu. Dilanjutkan, pada jam yang sama menuju pelelangan ikan. Bandeng Gresik sampai ke konsumen, khususnya restoran biasanya dalam kondisi segar. Hanya beberapa jam setelah panen sehingga dalam kondisi segar. Rasa gurih dan juicy akan kita dapatkan dari cita rasa bandeng segar.

Keseruan panen bandeng juga wujud rasa sukur ketika tambak menghasilkan. Para petambak kerap kali dihantui gagal panen karena abrasi sebagaimana yang disampaikan Zaini.

hutanhijau.org
Mengangkat bandeng ke permukaan setelah bandeng mati. Foto: Titik Kartitiani

Sedimentasi 17 ton/Tahun, Muara pun Dipindah Belanda

Bagi Mengare, abrasi dan sedimentasi bukan hal baru. Bahkan sedimentasi menorehkan sejarah pemindahan muara dari Mengare ke Ujung Pangkah. Tercatat, sedimentasi Mengare mencapai 17 ton/tahun. Hal ini sangat mencemaskan bagi kapal-kapal yang melintasi Sungai Bengawan Solo.

Perlu diketahui, Sungai Bengawan Solo pernah menjadi urat nadi transportasi sungai pada zaman Belanda. Sungai Bengawan Solo mengalirkan air dari daerah aliran sungai (DAS) sepanjang kurang lebih 16.100km. Aliran Sungai Bengawan Solo mulai dari Pegunungan Sewu di sebelah barat-selatan Surakarta, lalu ke laut Jawa di utara Surabaya melalui jalur sepanjang kurang lebih 600km.

Delta sungai Bengawan Solo berada di daerah Sidayu wilayah Kabupaten Gresik. Pada delta ini sengaja dibuat kanal oleh manusia, tepatnya sejak zaman Hindia Belanda. Delta Bengawan Solo ini menghasilkan sedimentasi sebanyak 17 juta ton lumpur per tahun. Delta Pangkah merupakan hasil modifikasi sungai Bengawan Solo di bagian hilir.

Salah satu tujuan dimodifikasinya bagian hilir dari Bengawan Solo ini adalah untuk menghindari pendangkalan di Selat Madura. Endapan dibawa oleh aliran Bengawan Solo dari ujung hingga hilir. Delta buatan yang merupakan hasil rekayasa yang berada di sebelah utara Kabupaten Gresik. Delta tersebut bernama delta Pangkah karena berada di wilayah kecamatan Ujung Pangkah.

Ketika muara dipindahkan, bukan berarti masalah Mengare selesai. Justru ketika dipindahkan, seolah Mengare tidak lagi menjadi perhatian. Bagaimanapun juga, aliran sungai ini akan terhubung. Jika terjadi pendangkalan, dampaknya berantai. Pertama pada masyarakat pesisir dan pinggiran sungai yang kehidupannya tergantung dengan pesisir utara Jawa dan pinggir sungai. Selain itu, bisnis yang terkait dengan aliran sungai dan pelabuhan juga akan terganggu.

hutanhijau.org
Muara Bengawan Solo Lama/Google Maps

Silvofishery, Jalan Tengah untuk Mengare

“Sekarang kami juga sudah menanam bakau, misalnya dibantu Yagasu. Targetnya 10 ribu mangrove. Tapi sekarang belum mulai lagi karena tanamannya sering rusak kena gelombang,” tambah Zaini.

Yagasu (Yayasan Gajah Sumatera) merupakan salah satu organisasi yang mencoba untuk menanam bakau di tambak-tambak yang rusak dan ditinggalkan. Namun tantangannya, tanaman bakau yang masih muda ini kerap kali kalah dengan terjangan gelombang sehingga hanyut terbawa arus.

Lebih jauh lagi, BLH Jawa Bali pernah memprakarsai penanaman mangrove. Program tersebut berjalan selama 2 tahun. Beberapa areal bisa tertutup mangrove kembali, namun dibuka lagi untuk menjadi area tambak bandeng.

“Hal yang perlu dilakukan bukan hanya tentang menanam mangrove, tapi juga penyadaran pada masyarakat untuk menjaga mangrove dan tidak mengalihkan jadi tambak,” kata Andi Zulkarnaen, koordinator penanaman mangrove BLH Jawa Bali (2008-2010).

Namun menjadi hal yang sulit ketika masyarakat harus menjaga mangrove sementara tidak ada alternatif penghasilan. Mereka rata-rata petambak bandeng. Andi mengusulkan konsep silvofishery. Konsep silvofishery yaitu sistem pertambakan teknologi tradisional yang menggabungkan antara usaha perikanan dengan penanaman mangrove. Hal ini diikuti konsep pengenalan sistem pengelolaan dengan meminimalkan input dan mengurangi dampak terhadap lingkungan.

“Sebelum melaksanakan program, kesadaran masyarakat dulu harus dibangkitkan. Misalnya adanya Perdes untuk mengelola tanah loloran,” tambah Andi. Tanah loloran merupakan kawasan daratan yang dibentuk akibat sedimentasi. Di Mengare, tanah macam ini akan diperebutkan untuk dialihkan menjadi tambak sehingga area terbuka dan tak tahan gelombang.

Andi mencontohkan di desa sebelah, yaitu Desa Bedanten, Kecamatan Bungah, sudah ada Perdes tentang penggunaan tanah loloran untuk konservasi mangrove. Bila sudah ada Perdes semacam ini, maka masyarakat dengan sendiri akan menjaga dan berinisiatif untuk menanam mangrove.

Zeen is a next generation WordPress theme. It’s powerful, beautifully designed and comes with everything you need to engage your visitors and increase conversions.