Kopi Berketahanan Iklim dan Perlunya Aksi di Hulu

Pada tahun 2023, panas ekstrem berdampak pada kesehatan dan memicu kebakaran hutan yang dahsyat. Curah hujan yang tinggi, banjir, siklon tropis yang semakin intensif meninggalkan jejak kehancuran, kematian dan kerugian ekonomi yang sangat besar.

Demikan World Meteorological Organization (WMO) sebuah badan spesialisasi bidang Meteorologi di bawah naungan PBB dalam pernyataan yang dirilis pada pertengahan Januari 2024.

Dampak perubahan iklim ini juga dirasakan oleh petani kopi di Wonosalam Jombang. “Panen dua tahun terakhir, hasilnya merosot tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata Muhamad Edi Kuncoro, dari kelompok Tani Wojo Desa Carangwulung yang juga Sekretaris Asosiasi Kopi Wonosalam Jombang.

Dia menjelaskan bahwa saat hujan lebat turun dengan pola yang berubah, bunga kopi banyak yang rusak atau rontok sehingga mengurangi hasil panen. Sementara pada kemarau dengan panas menyengat,akibat pengaruh El Nino, bunga kopi menjadi layu, dan pada akhirnya banyak yang rusak.

“Di Kelompok Tani Wojo sendiri, yang tahun-tahun sebelumnya bisa menghasilkan setidaknya 100 ton kopi, dalam dua tahun terakhir ini hanya bisa memanen sekitar 10 ton biji kopi,” katanya menambahkan. Lahan yang digarap oleh Kelompok Tani Wojo memiliki luasan total sekitar 50 hektar.

Akibat anjloknya hasil panen, harga cherry yang sebelumnya berkisar 4 ribu rupiah perkilogram naik tiga kali lipat.  Meski harga mengalami lonjakan, namun para petani lebih senang dengan besaran panen tahun-tahun sebelumnya. Secara perhitungan keuntungan yang didapat masih lebih besar dibanding saat persediaan atau hasil panen mengalami penurunan drastis seperti yang dialami saat ini.

Untuk mengatasi hal ini, petani kopi lebih memilih menjualnya dalam rupa green bean. Kopi Robusta bisa mereka jual dengan rentang harga 25 ribu sampai 60 ribu rupiah. Tergantung kategorinya termasuk asalan atau fine robusta.

Selain itu, untuk menambal kebutuhan ekonomi para anggotanya akibat anjloknya hasil panen kopi, Kelompok Tani Wojo melakukan diversifikasi usaha dengan beternak domba. Dalam kandang komunal yang mereka miliki saat ini sudah terisi 80 ekor domba.

Regenerasi Tanaman Kopi

Turunnya hasil panen kopi rakyat dirasakan langsung oleh Zainuddin Elyzein, pemilik Dialectic Coffee Roastery yang membuka usahanya di Karangploso, Kabupaten Malang. Saat ini dia hanya bisa mendapatkan kopi cherry sebanyak 35% saja dari jumlah yang biasanya didapat setidaknya lima tahun lalu.

Zainuddin membeli kopi dalam bentuk cherry dari para petani kopi yang berada di lereng Arjuno, Kawi atau Panderman. Dia memiliki sendiri mesin penyangrai kopi. “Saya harus menjaga kualitas rasa,” katanya. “Rasa enak kopi tidak hanya ditentukan oleh kualitas biji kopi saja, namun juga oleh proses lain di antaranya roasting,” imbuhnya. Itulah sebabnya dia lebih memilih untuk membeli kopi dalam bentuk cherry sehingga bisa secara langsung mengendalikan kualitas rasa.

Tak hanya sebatas sebagai pembeli, Zainuddin bekerja sama dengan petani di lereng Kawi saat ini mempersiapkan tanaman kopi Arabika varietas Orange Bourbon yang dikenal sebagai kopi kuning. “Kopi ini diklaim lebih tahan hama dan cuaca,” katanya. Dia ingin melakukan peremajaan atau setidaknya menambah jumlah tanaman kopi dengan jenis berkualitas rasa lebih, dan yang lebih tahan dalam menghadapi perubahan iklim.

Mahalnya biaya perawatan dan jeda waktu setidaknya 3 tahun baru bisa memanen menjadi pertimbangan utama petani kopi untuk tidak mengganti tanaman kopi yg sudah ada. Meski pada akhirnya, mereka menanggung atas merosotnya hasil panen.

Mengembangkan Bibit Kopi Berketahanan Iklim

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), lembaga yang berdiri sejak 1 Januari 1911 dengan nama Besoekisch Proefstation juga mengembangkan sejumlah varietas kopi dari jenis Arabica maupun Robusta yang diharapkan memiliki ketahanan dalam menghadapi perubahan iklim.

“Sudah dikembangkan dan dikomersilkan dari hasil penelitian mengenai varietas kopi yang tahan terhadap perubahan iklim. Kita memberinya nama Kopi Super,” kata Andi Dharmawan peneliti di Puslitkoka kepada hutanhijau.id (17/1/2023)

Varietas ini disebutkan memiliki perakaran yang lebat dan tahan hama akar nematode parasit  serta berproduksi tinggi dengan citarasa baik. Selain itu dalam tempo dua tahun sudah mulai panen dengan potensi produksi setahunnya mencapai 3 ton perhektarnya.

Mengembangkan varietas kopi yang mampu menghadapi perubahan iklim merupakan salah satu upaya pada tataran hilir. Namun masih diperlukan aksi lebih nyata di bagian hulu.

“Kita masih bisa menghindari bencana iklim terburuk, hanya jika kita bertindak sekarang dengan ambisi yang diperlukan untuk membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius, dan mewujudkan keadilan iklim,” kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam sebuah pernyataan.

Zeen is a next generation WordPress theme. It’s powerful, beautifully designed and comes with everything you need to engage your visitors and increase conversions.