Dampak perubahan iklim menjadi keniscayaan yang harus dijawab oleh petani. Peningkatan suhu bumi dan musim yang semakin tidak menentu membuat para petani di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur mengganti komoditas apel dengan jeruk. Perubahan iklim tersebut berdampak pada pergantian tanaman buah itu diharapkan dapat melahirkan pundi-pundi ekonomi untuk kesejahteraan petani.
“Sekitar enam bulan lagi, tanaman jeruk saya akan panen. Sekarang tingginya sudah 2 meter,” kata Heri Subhan dengan suara menyiratkan kegembiraan (10/1/2023). Jeruk Pontianak (citrus nobilis var. microcarpa) yang dia tanam sekitar dua tahun lalu itu tumbuh subur di lahan seluas 3 hektar dari luas total 7 hektar kebun yang berada di Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan.
Heri baru saja mengganti pohon apel menjadi pohon jeruk dua tahun terakhir. Sehingga, panen pertamanya kali ini membuat hatinya gembira. Ada harapan baru yang lahir dari upayanya mengganti pohon apel menjadi pohon jeruk.
“Jeruknya baru belajar buah,” katanya mengistilahkan pohon jeruk yang akan berbuah untuk pertama kalinya. Pohon jeruk itu dia tanam dengan jarak 4 meter. Harapan meraup untung besar kian melambung, ketika mendapati di Poncokusumo, Kabupaten Malang dalam sehari sebanyak 200 ton jeruk bisa terserap pasar.
“Dengan harga Rp 5 ribu perkilogram pun sudah untung. Apalagi perawatan jeruk lebih mudah dan tidak semahal apel,” katanya.

Heri, sebagaimana kebanyakan petani di Nongkojajar, sebelumnya adalah petani apel. Menurutnya, petani apel di Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan mulai mengalami kejayaan tahun 1990-an. Sedangkan, memasuki tahun 2000-an, perlahan komoditas ini merosot tajam.
“Pada tahun 2000-an harga apel pernah mencapai Rp 20 ribu perkilogram,” katanya mengenang. Lalu seiring berjalannya waktu harga terus melorot bahkan sampai mendarat di harga Rp 3 ribu perkilogramnya. Petani merugi. Namun adanya harapan bahwa satu saat harga akan membaik membuat sebagian petani memutuskan tetap bertahan berkebun apel.
Pada era kejayaannya, jumlah pohon apel tercatat pernah mencapai hampir 10 juta batang. Jumlah itu terus menyusut, dan pada 2016 tersisa tak lebih dari sepertiganya. Pertumbuhan apel yang baik sangat dipengaruhi oleh intensitas hujan dan paparan sinar matahari yang tepat. Terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat memengaruhi kualitas buah. Selain itu berdasarkan cuaca, para petani menjadwalkan pekerjaannya seperti kapan memangkas dahan di musim bunga agar mendapatkan buah kualitas bagus saat panen. Biasanya mereka memangkas dahan pada bulan Januari dan memanen pada bulan April.
“Masalahnya, cuaca semakin panas,” kata Otto Endarto, peneliti pada Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropis di Kementerian Pertanian sebagaimana dilansir Thomson Reuters Foundation.
“Beberapa petani mencoba pindah ke tempat yang lebih tinggi karena suhu lebih dingin. Namun perubahan iklim membuat cuaca tidak menentu dan curah hujan meningkat. Ini menjadi musuh bagi tanaman apel,” tambahnya.

Endarto mengatakan kenaikan suhu mengganggu cara tanaman berinteraksi dengan sinar matahari, air dan karbon dioksida untuk menghasilkan gula, sehingga menyebabkan penyakit seperti busuk batang dan kutu hijau.Lembaga pemerintah telah meneliti varietas apel yang dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim lokal, namun sejauh ini masih belum berhasil.
Selain apel yang kualitasnya mengalami penurunan, tingginya ongkos produksi terkait dengan harga pestisida yang meningkat sampai tiga kali lipat plus ongkos para pekerja yang setiap tahun naik, ditambah sepinya pembeli, membuat Heri akhirnya memutuskan mengganti tanaman apel dengan jeruk. “Semakin lama bertahan dengan apel, kerugian akan semakin bertambah,” kata Heri yang juga Ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Kharisma Agro Desa Andonosari. Kini, seluruh lahannya sudah berganti dengan tanaman jeruk. Di sebagian lahan yang saat ini tegak tanaman jeruk setinggi dua meter itu, dia optimistis bisa mengawali meraih kejayaannya kembali.



