Sebelum “Nusantara Green Pesantren” Dideklarasikan, Pondok LDII Telah Bangun PLTS Terbesar Pertama di Indonesia

Di era dimana kelestarian lingkungan menjadi prioritas global, Indonesia mengambil langkah inovatif melalui konsep ‘Green Pesantren’. Sejak 2018, Pondok Pesantren Wali Barokah di Kediri menjadi pelopor dengan implementasi PLTS terbesarnya, sementara inisiatif Presiden Jokowi tentang ‘Nusantara Green Pesantren’ di IKN membuka lembaran baru dalam pendekatan pendidikan Islam yang berkelanjutan. Kedua inisiatif ini menandai perubahan signifikan dalam upaya lembaga pendidikan Islam di Indonesia untuk berkontribusi dalam pelestarian lingkungan dan pemanfaatan energi terbarukan.

Jumlah pondok pesantren di Indonesia mengalami kenaikan setiap tahunnya. Berdasar data Kementerian Agama (Kemenag) mencatat ada 39.043 pesantren pada tahun ajaran 2022. Dibanding tahun ajaran 2021, ada 30.494 pesantren di Indonesia. Peningkatan jumlah pesantren ini secara simultan juga akan berpotensi menambah beban penggunaan listrik negara. Kebutuhan listrik merupakan bagian vital dalam pelaksanaan proses belajar di pesantren. Terutama untuk kebutuhan pompa air dan lampu dalam setiap ruangan dan gedung.

Kondisi pesantren yang memerlukan banyak daya listrik tersebut, memerlukan solusi untuk mengurangi beban listrik konvensional yang bersumber dari pengolahan batu bara, sebagai bahan bakar utama penghasil listrik. Inisiatif tersebut dimulai dari Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah milik Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Kota Kediri, Jawa Timur yang sejak 2019 mulai menggunakan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Dengan investasi PLTS ini, Ponpes Wali Barokah bisa menjadi contoh bagi ponpes lain di Indonesia untuk memulai menggunakan energi surya sebagai alternatif.

Menyusuri satu persatu tangga dari Gedung Utama Ponpes Wali Barokah, beragam aktivitas santri terlihat di setiap penjuru pesantren. Ada sebuah lift untuk menuju lantai III gedung tersebut, akan tetapi lift tesebut sedang dalam perbaikan pada Selasa, (23/1/2024) lalu.

Dengan menggunakan anak tangga, saya diantar oleh Syaifuri, salah seorang pengurus Ponpes Wali Barokah. Ruangan demi ruangan yang kami lewati terlihat penuh diisi santri yang sedang belajar selama 24 jam nonstop.

“Ini gedung utama yang digunakan santri belajar. Kalau panelnya di atas (rooftop,red), ya kurang dua lantai lagi,” terang Syaifuri.

Awan mendung tipis yang menggelayut di Kota Kediri ini telah menunggu saya saat melangkah tapak demi tapak anak tangga gedung. Memasuki aula lantai III, kami berdua melihat sebuah tembok dengan bertuliskan PLTS ROOFTOP HYBRID.

hutanhijau.org
Aula serbaguna Gedung Wali Barokah. Foto: Rino Hayyu Setyo/Hutan Hijau

Aula tersebut merupakan pintu masuk ke rooftop Gedung Wali Barokah. Sesampai di rooftop tersebut, bukan genteng yang terpajang, melainkan deretan panel surya. Setidaknya, ada 636 panel surya yang didatangkan dari Kanada  terpasang sejak 5 tahun lalu. Menurutnya, ini juga menjadi PLTS di ponpes terbesar di Indonesia.

“Peresmiannya pada 2018 lalu, sudah 5 tahun lebih ya,” terang Totok, seorang teknisi yang menyusul ke PLTS Rooftop Hybrid tersebut.

Awalnya, Ponpes Wali Barokah akan memasang 640 panel surya di atas gedung ini. Akan tetapi, atap tidak mencukupi, sehingga 4 panel surya dipasang di gedung kustur atau rumah susun pengurus ponpes yang ada di seberang Ponpes Wali Barokah. Mengenai pembangunannya, berdasar catatan sekretariat PLTS ini, Totok menyebut Ponpes Wali Barokah sudah menyiapkannya sejak 2016 dan aktivasi PLTS dimulai pada 28 Oktober 2018.

“Kalau on-nya 2018, tapi dua tahun sebelumnya sudah dipersiapkan,” terangnya.

Secara umum, kata Totok, PLTS ini bertujuan menghemat listrik Ponpes Wali Barokah. Panel-panel surya ini bisa meng-cover empat bangunan utama yang digunakan keseharian. Yakni, Gedung Wali Barokah, Masjid Baitul A’la, Asrama Putra dan Asrama Putri. Hal ini bukan tidak mungkin, karena dalam sehari daya yang dihasilkan dari PLTS ini mencapai 220.000 Watt.

hutanhijau.org
Penampakan panel surya dari menara Asmaul Husna, Ponpes Wali Barokah. Foto: Rino Hayyu Setyo

“Kalau penyerapan maksimal sinar matahari, dayanya bisa 220.000 Watt. Ini sudah bisa memenuhi semua kebutuhan pondok,” imbuh Totok.

Ada kalanya, penyerapannya pun tidak berjalan maksimal. Hal ini ada dua faktor yang mempengaruhi kerja panel surya. Pertama ialah cuaca mendung dan kedua adalah kebersihan lapisan panel surya. Seperti siang itu, Totok memperkirakan kerja panel surya bisa turun maksimal 20% dibanding saat cuaca cerah. Totok pun menunjukkan kondisi debu yang menempel di panel surya. Apabila, debu itu tebal apalagi sampai berkerak, maka hal itu menjadi faktor penghambat penyerapan sinar matahari.

Untuk perawatannya, Totok menerangkan biasanya ia bersama rekan-rekannya memerlukan waktu 1 minggu. Dalam sebulan biasanya Totok membersihkan papan panel surya berukuran 40×41 meter itu sebanyak dua kali.

Bagaimana saat Kota Kediri mengalami pemadaman listrik dari PLN? Mendapatkan pertanyaan ini, Totok terlihat tak kebingungan menjawab. Menurutnya, Ponpes Wali Barokah tak terganggu sedikit pun. Lantaran, ada baterai yang menyimpan serapan energi panas dari sinar matahari tersebut.

hutanhijau.org
Ruangan penyimpanan baterai panel surya. Foto: Rino Hayyu Setyo

Ketika menjelaskan proses kerja baterai PLTS itu, Totok pun mengajak ke ruangan inverter berukuran sekitar 5×5 meter. Ruangan ini berisi 3 bagian yakni, inverter on grid, hybrid, dan baterai. Inverter on grid digunakan untuk menyalurkan listrik langsung ke gedung-gedung Ponpes Wali Barokah. Sedangkan, inverter Hybrid berfungsi untuk mengkonversi panas surya panel untuk disimpan ke baterai. Ia menggambarkan ketika ada pemadaman listrik, ketika baterai tidak terisi maksimal, maka dibutuhkan genset untuk mengaktifkan baterai PLTS tersebut.

“Genset tetap dibutuhkan, tapi istilahnya hanya untuk memancing biar PLTS jalan lagi,” ungkapnya.

Masa Depan Listrik Pesantren dengan Surya Panel

Greenpeace dalam akun instagramnya pada 10 November 2023 menilai dengan jumlah sebanyak itu, penerapan PLTS atap di pondok pesantren menjadi langkah cerdas untuk mengatasi beban biaya listrik yang terus meningkat. Keuntungan utama dari penerapan PLTS atap di pondok pesantren adalah penghematan biaya listrik.

Manfaat PLTS tidak hanya bersifat ekonomis. Penggunaan solar panel di pondok pesantren juga memiliki dampak positif terhadap lingkungan. Sebagai sumber energi bersih, PLTS membantu mencegah memburuknya krisis iklim dan mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil yang merusak lingkungan. Hal ini sejalan dengan komitmen global untuk mengurangi jejak karbon dan menjaga keberlanjutan.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Prof. Dr. Ir. Sudarsono, MSc., yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII dan sekaligus Koordinator Bidang (Korbid) Litbang, Iptek, Sumberdaya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL) DPP LDII. Dalam wawancaranya di Pilar.id, menyatakan dalam suatu kesempatan terpisah bahwa LDII, sebagai bagian dari masyarakat sipil, telah menyadari bahwa Indonesia telah berkomitmen dan menandatangani Paris Agreement 2015.

hutanhijau.org
Panel surya Ponpes Wali Barokah. Foto: Rino Hayyu Setyo

“LDII berpandangan bahwa energi sebagai faktor atau yang berfungsi sebagai enabler adalah bukan komoditas biasa. Karena itu diperlukan skenario pengarusutamaan (mainstreaming) pendayagunaan energi baru terbarukan,” terang Sudarsono pada 13 Januari 2022 silam.

Partisipasi Ponpes Wali Barokah dianggap esensial dalam mengembangkan sumber energi terbarukan mengingat capaian energi pada akhir tahun 2020 baru mencapai 11,51 persen. Data ini berasal dari perhitungan Dewan Energi Nasional dan Kementerian ESDM yang dilaporkan oleh Pilar.id dalam tulisan Titik Kartitiani.

Sebelumnya, Ketua DPP LDII Prasetyo Sunaryo menyatakan bahwa PLTS di Ponpes Wali Barokah ini merupakan terbesar di Indonesia kategori pesantren.

“Panel surya sebesar PLTS di ponpes ini pertama di Indonesia. Ini wujud paradigma khusus tidak cukup dengan cara pandang perbandingan harga. Pendayagunaan EBT komparasi bukan terhadap harga BBM, tetapi harus terhadap pengandaian apabila terjadi kelangkaan energi BBM,” terangnya dalam siaran pers 19 Mei 2019.

“Ada pertimbangan lain bahwa Ponpes Wali Barokah ingin berkontribusi pada bangsa dan negara lewat pengurangan emisi yang menjadi program pemerintah,” terang K.H Sunarto.

Zeen is a next generation WordPress theme. It’s powerful, beautifully designed and comes with everything you need to engage your visitors and increase conversions.