Hutan kota seluas 100ha itu menyajikan miniatur flora, fauna, dan lanskap hutan primer rawa gambut Kalimantan Tengah. Sebuah relung yang mudah dijangkau untuk mengenal kekayaan hayati tanah Borneo.
Seekor pit viper berada beberapa sentimeter di pinggir trek kayu Hutan Kota Nyaru Menteng, Desa Tumbang Tahai, Kec. Bukit Batu, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Ular warna hijau muda dengan kepala segitiga membelit anteng tak bergerak meski lalu lalang orang di depannya. Saya sempat membaca referensi soal ular berbisa di Kalimantan, termasuk viper pit keeled Kalimantan (Tropidoalemus subannulatus) sebelum berangkat Ekspedisi Hutan Hijau ini. Ular ini bisa diam berminggu-minggu untuk menunggu mangsa. Saya tidak membayangkan andai saya terlalu minggir berjalan lalu mengusiknya dari lamunan panjang itu. Saya bakal terkejut, dia bakal menggigit sebagai wujud keterkejutannya. Bertemu ular berbisa ini di hutan kota, yang notabene sangat dekat dengan kota, tidak ada dalam prediksi saya.

Anggota tim ekspedisi ini, termasuk saya, dibesarkan di lanskap Pulau Jawa, pun cara berpikir berdasar dari alam Jawa. Ketika menyebut “hutan kota”, yang tergambar adalah deretan pepohohan yang sengaja ditanam dengan luas maksimal ribuan meter persegi dengan ragam fauna yang cukup “ramah”. Kami tidak membayangkan jika hutan kota di Kalimantan satuan luasnya hektar dan didiami satwa liar seperti di hutan primer rawa gambut Kalimantan.
“Tempat wisata yang khas untuk alam Kalimantan Tengah. Kami harapkan bisa menjadi miniatur hutan alam yang ada di Kalimantan Tengah,” kata Kepala Dishut Provinsi Kalteng, Agustan Saining.

Ragam Kayu Khas Kalimantan
Lanskap hutan berupa hutan primer rawa gambut dengan air hitam khas ekosistem alam gambut yang masih bagus. Pohon-pohon berdiameter lebih dari 40 cm tegak menyangga kawasan yang terkenal sebagai Arboretum Nyaru Menteng.
Agustan menjelaskan, kawasan ini terdiri dari hutan (sekitar 50 ha), sisanya fasilitas pendukung, dan juga komplek BOSF (Borneo Orangutan Survival Foundation). Organisasi ini mulai rehabilitasi orangutan di Kalimatan Timur pada tahun 1991. Kemudian memulai Pusat Orangutan Nyaru Menteng pada tahun 1999, perintisnya Lone Droscher Nielsen. Kegiatannya mulai dari rehabilitasi orangutan hingga siap dilepasliarkan ke alam. Juga merawat bayi orangutan yang kehilangan induk lalu “disekolahkan” hingga lulus dan bisa beradaptasi dengan habitat alamnya. Namun tak semua orangutan bisa lulus sehingga harus ditampung di sini lebih lama.

Di luar kawasan BOSF, Nyaru Menteng berupa kawasan hutan dengan trek kayu yang terus dibangun. Meski masih menyisakan landskap hutan primer, Arboretum Nyaru Menteng merupakan bekas HPH yang pernah dieksploitasi sejak tahun 1974. Mulai tahun 1988, kawasan ini dijadikan bumi perkemahan kemudian menjadi hutan kota sehingga pepohonan yang tersisa tumbuh lebih besar.
Menurut beberapa pencatatan ragam jenis pohon yang ada di Nyaru Menteng, tercatat sejumlah 139 jenis pohon. Jika dilihat dari diameter pohon dan lingkaran tahun, umur pohon yang ada di lokasi ini sudah di atas 40 tahun. Semakin dalam yang jauh dari jangkauan, semakin besar diameter pohon, bahkan ada yang di atas 50 cm.
Ragam jenisnya mulai dari kayu khas rawa gambut antara lain blangeran (Shorea belangeran), meranti (Shorea spp.), dan jenis kayu indah yaitu ramin (Gonystyus spp.). Pohon yang tergolong langka di Arboretum Nyaru Menteng antara lain terentang (Camnospermum sp.), mentibu (Dactylocladus stenostachys), bintangur (Callophyllum sp.), dan jelutung (Dyera costulata).

Lebih jauh mengamati, tumbuhan epifit yang menempel di pepohonan juga beragam. Mulai jenis paku-pakuan, dischidia, dan anggrek. Saya juga menemukan anggrek tanah (Malaxis) yang tumbuh subur dan belum berbunga. Referensi lain mencatat, Nyaru Menteng juga menyimpan beberapa jenis keragaman kantong semar (Nepenthes). Saya menemukan sulurnya, membelit di antara kayu dan belum berkantong sehingga sulit diketahui jenisnya.
“Kami merencakan pembangunan fasilitas sejak 2002. Pada tahun 2023 terealisasi 25%, harapan saya pada 2024 bisa selesai 100%,” kata Agustan. Fasilitas tersebut berupa trekking kayu yang aman bagi pengunjung, kafe, gazebo, dan tempat parkir.

Bagi wisata umum, menyusuri trek kayu untuk menghirup udara segar merupakan hal yang ditawarkan dari hutan kota ini. Selain itu, Dishut juga memberikan hiburan berupa rusa dan kura-kura yang diletakkan di kandang luas di kawasan tersebut. Tambahan satwa yang memang dari dulu ada di hutan rawa gambut ini untuk menarik pengunjung, khususnya anak-anak.
“Rusa ini belum ada sebulan di sini. Saya bertugas memberi pakan sehari dua kali. Ya seperti merawat kambing saja,” kata Kardi, perawat satwa. Perantauan dari Madiun, Jawa Timur, yang awalnya buruh konstruksi ini sudah lama menangani pekerjaan Dishut. Ia punya pengalaman dalam merawat orangutan di BOSF dan kini merawat rusa dan kura-kura di Nyaru Menteng. Menurut pengamatannya, keberadaan rusa menjadikan pengunjung senang datang ke kawasan hutan ini.

Keragaman Fauna, dari Burung hingga Viper
“Wah, dia sudah dekat pinggir jalur ya. Biasanya tidak di sana,” kata Ashar, fotografer satwa liar asal Palangkaraya ketika mengomentari tentang pit viper yang kami temukan. Tak berapa lama, ia mendekati ular tersebut yang masih dalam posisi sama sejak 3 jam kami menemukan. Ashar mengambil beberapa frame dengan kameranya.
Ashar sudah “kenal” dengan beberapa satwa liar di Nyaru Menteng sebab ia sering memotret di lokasi itu. Tujuan utamanya adalah birdwatching dan memotret burung. Namun bila ketemu satwa liar lainnya, ia juga memotretnya. Untuk pengamatan burung, biasanya mulai dari jam 07.00 WIB. Sedangkan sore hari, mulai pukul 14.00 WIB-16.00 WIB.

“Kalau yang sudah terindentifikasi, sekitar 40 jenis,” terang Ashar. Jenis yang umum dijumpai antara lain ciung air (Macronous ptilosus), tiong batu kalimantan (Pityriasis gymnochepala), tukis tikus (Sasia abnormis), dan tepus kaban (Stachryris nigricollis).
Menemui tiong batu adalah hal yang menggembirakan bagi Ashar sebab burung berkepala oranye ini endemik Kalimantan. Ia juga masih menginginkan untuk menjumpai burung endemik Kalteng yaitu tete mayat atau babat mayat (Terpsiphone paradisi). Burung kecil dengan ekor panjang berwarna putih ini kerap dikaitkan dengan pertanda kematian.
Selain jenis burung, ragam jenis mamalia dan reptil juga bisa dijumpai di Nyaru Menteng. Mulai dari lutung merah (Presbytis rubicunda), bajing kelapa (Callosciurus notatus), dan bajing kerdil telinga hitam (Nannosciurus melanotis).

“Kalau untuk bajing, dari ukuran yang besar sampai yang seukuran ibu jari, saya sudah pernah menemukan di sini,” katanya.
Bagi Ashar, Nyaru Menteng adalah tempat asyik untuk berburu foto satwa liar dengan biaya yang murah. Dekat dengan kota dan tidak habis di perjalanan. Untuk wisatawan yang suka birdwatching dan tak punya libur panjang, tempat ini sangat direkomendasikan. Sejauh ini, harga tiket masuk Rp5.000,-/orang.
Lebih jauh lagi, Hutan Kota Nyaru Menteng adalah paru-paru kota. Hutan yang terjaga di kawasan perkotaan adalah salah satu harapan penyerap karbon yang sangat dekat dengan permukiman.



