Ritual Fang Sheng: Umat Buddha Melepas Ikan Endemik di Kali Surabaya Agar Alam Lestari

Sabtu, 24 Juni 2023 dini hari saya berkendara dari Kota Malang menuju Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Pagi itu kabut menyelimuti separuh perjalanan saya, udara Kota Malang memang sedang dingin-dinginnya.

Sesampainya di kantor ECOTON (Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah) Foundation di Wringinanom, Gresik, suasana masih lengang. Firly Mas’ulatul Jannah, staf Zero Waste Cities Program di Ecoton menyambut saya dengan menyodorkan segelas kopi, lebih dari cukup untuk menghangatkan suasana pagi.

Tak berapa lama kemudian rombongan kendaraan Buddhist Education Centre Surabaya tiba. Mereka menurunkan kantong-kantong plastik bening berisi ikan dan belut, lalu berjalan beriringan menuju dermaga Kali Surabaya, yang merupakan percabangan dan hilir Sungai Brantas. Mereka bersiap untuk menyelenggarakan ritual Fang Sheng, sebuah ritual tahunan pelepasan hewan (ikan dan belut) endemik Sungai Brantas.

hutanhijau.org
Kempo Wangchuk (tengah) menuju dermaga Kali Surabaya. Foto: Arief Priyono

Dermaga di depan kantor Ecoton tersebut memang sudah ditetapkan menjadi kawasan suaka ikan Sungai Brantas, yang dinaungi oleh Peraturan Gubernur Provinsi Jawa Timur pada Maret 2014. Maka tak heran jika umat Buddha di Surabaya menggelar ritual Fang Sheng di sana.

Ritual Fang Sheng kali ini dipimpin Kempo Wangchuk dari Vihara Rumtek Dhammacakka, India. Setidaknya ada sekitar 40 umat Buddha yang dengan khusyuk mengikuti ritual tersebut. Sejumlah warga lokal dan staf Ecoton ikut membantu kelancaran ritual. Mereka tidak memandang perbedaan agama, semua demi untuk menjaga lingkungan.

“Fang Sheng itu artinya melepaskan sebuah kehidupan, di agama Buddha kita membiasakan diri senantiasa tidak membunuh. Selain itu kita juga berusaha bisa memberikan kesempatan makhluk lain untuk hidup” jelas Kartono, ketua Buddhist Education Centre seusai ritual.

Kartono menambahkan, untuk melestarikan sebuah daerah atau dalam hal ini sungai, tidak semata-mata hanya tentang sungai, tapi apa yang ada dalam komponen di dalamnya (habitat). Jadi kalau salah satu mati maka yang lain akan ikut punah.

“Kami juga melibatkan warga sekitar kawasan kali untuk ikut menjaga ekosistem dan satwa air di kawasan suaka ikan Kali Surabaya ini,” tambahnya.

Dalam ritual ini, Kartono bersama umat Buddha lainnya melepas ribuan ikan dan belut yang mereka beli dari sejumlah pasar di Surabaya. Mereka mewadahinya dengan kantong plastik, dan satu persatu dibuka untuk dilepaskan ke sungai.

hutanhijau.org
Ikan dan belut yang hendak dilepas ke Kali Brantas. Foto: Arief Priyono

Yuska koordinator panitia Fang Sheng mengatakan, ritual tersebut memiliki keyakinan bahwa melepaskan ikan lokal yang biasa dikonsumsi ke habitat asli dapat memberikan keberkahan dan manfaat bagi alam.

“Kami melepaskan beberapa bibit ikan lokal di Kali Surabaya. Supaya kami sebagai manusia terhindar dari mara bahaya dan mendapatkan kebaikan karena menolong makhluk yang menderita,” katanya.

Sementara itu, Aziz, Deputi Eksternal dan Kemitraan Ecoton mengatakan, adanya ritual yang dilakukan di suaka ikan diharapkan dapat menjaga kelestarian sungai.

“Harapannya seluruh elemen masyarakat bisa bersama-bersama berupaya menjaga kelestarian sungai. Karena biota-biota sungai membutuhkan air yang bersih dan ekosistem yang layak untuk mendukung perkembangbiakan dan kelangsungan hidup keanekaragaman hayati,” jelas Aziz.

Berdasarkan pendataan dan penggalian informasi yang dilakukan Ecoton, pada kurun waktu 1970 hingga 1980-an, di sepanjang aliran sungai Brantas, terdapat setidaknya ada seratus lebih jenis ikan yang hidup. Spesies ikan di Sungai Brantas menurun menjadi 60 spesies yang teridentifikasi pada 1990, namun berdasarkan hasil sensus ikan pada 2017, jenis-jenis ikan yang hidup di sepanjang aliran sungai Brantas hanya tinggal sekitar 30 spesies. 

Punahnya puluhan jenis ikan di sepanjang aliran Sungai Brantas, termasuk di aliran Kali Surabaya, dipicu pencemaran sungai dari limbah industri. Berdasarkan hasil penelitian Ecoton, 98 persen pencemaran di Sungai Brantas berasal dari limbah pabrik industri kertas yang kemudian mempengaruhi kehidupan beragam jenis ikan di sungai tersebut.

Foto cerita ini adalah bagian dari seri #AgamaDanPerubahanIklim.

Zeen is a next generation WordPress theme. It’s powerful, beautifully designed and comes with everything you need to engage your visitors and increase conversions.